Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

China Wajibkan Influencer Miliki Sertifikat Profesional, Atasi Misinformasi Digital

Bisnis
Manajemen dan Strategi Bisnis
Forbes Forbes
14 Nov 2025
150 dibaca
2 menit
China Wajibkan Influencer Miliki Sertifikat Profesional, Atasi Misinformasi Digital

Rangkuman 15 Detik

Regulasi baru di Tiongkok menunjukkan usaha untuk memverifikasi kredensial influencer di platform digital.
Ada tantangan besar dalam menyeimbangkan kebebasan berekspresi dengan kebutuhan untuk mencegah disinformasi.
Penerapan sistem kredensial dapat menjadi titik balik dalam dunia influencer, tetapi efektivitasnya masih harus dilihat.
China telah mengeluarkan aturan baru yang mengharuskan influencer yang memberikan saran dalam bidang profesional, seperti medis, hukum, dan keuangan, untuk memiliki bukti kredensial resmi. Langkah ini diambil untuk mengatasi maraknya informasi palsu yang tersebar luas melalui media sosial seperti Weibo, Douyin, dan WeChat. Dengan lebih dari satu miliar pengguna aktif, China mencoba mengembalikan kepercayaan kepada konten yang benar-benar berasal dari para ahli. Kebijakan ini menuntut agar influencer mendapatkan tanda verifikasi digital yang berfungsi seperti lisensi resmi dalam kehidupan nyata. Jika tidak memiliki sertifikasi resmi, mereka berisiko kehilangan akses ke platform. Regulasi ini berangkat dari masalah klasik internet, yaitu bahwa kebebasan berbicara secara online sering menimbulkan misinformasi yang bisa membahayakan kesehatan dan kehidupan orang banyak. Peran AI, terutama kecerdasan buatan, sangat penting dalam konstelasi teknologi global saat ini. Tokoh seperti Kai-Fu Lee sudah memprediksi sejak lama bahwa persaingan antara China dan Amerika Serikat akan berfokus pada penguasaan AI dan pengaruhnya terhadap masyarakat. Dengan aturan baru ini, China menunjukkan bagaimana negara bisa mengelola teknologi dan otoritas untuk menjaga kualitas informasi yang beredar secara digital. Namun, kebijakan ini juga mendapat kritik karena dianggap berpotensi sebagai bentuk sensor pemerintah yang membatasi kebebasan berekspresi. Selain itu, kemajuan teknologi deepfake yang dapat membuat seseorang tampak dan terdengar seperti ahli resmi menimbulkan tantangan baru dalam verifikasi kredensial. Meski begitu, banyak yang sepakat bahwa ada kebutuhan mendesak untuk menyeimbangkan antara kebebasan digital dan keamanan publik. Langkah China ini mungkin menjadi titik balik bagi kebijakan pengaturan influencer profesional di seluruh dunia. Negara-negara lain, terutama di demokrasi barat, kini memperhatikan hasilnya sebelum memutuskan melakukan regulasi serupa. Tantangan utama adalah bagaimana menjaga kreativitas dan kebebasan berekspresi tetap hidup, sekaligus memastikan keaslian dan keselamatan informasi yang dikonsumsi oleh jutaan orang secara digital.

Analisis Ahli

Kai-Fu Lee
China akan menjadi kekuatan besar di bidang AI dan teknologi, dan regulasi seperti ini mencerminkan upaya negara untuk mengintegrasikan teknologi dengan tata kelola yang ketat demi menjaga stabilitas sosial dan kemajuan teknologi.
Forbes columnist
Deepfakes yang semakin canggih membuat verifikasi kredensial menjadi sangat rumit, sehingga regulasi digital harus dibarengi dengan teknologi pendeteksi dan edukasi bagi pengguna agar tidak mudah terjebak penipuan.