DeepSeek dan Pertarungan Global AI: Masa Depan AI, Hak Cipta, dan Geopolitik
Teknologi
Kecerdasan Buatan
01 Mar 2025
234 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
DeepSeek sebagai model open-source dapat mempercepat inovasi AI di luar dominasi perusahaan teknologi besar.
Sanksi AS mungkin tidak efektif dalam menghentikan kemajuan AI di China, menunjukkan adanya pergeseran kekuatan dalam pengembangan AI.
Pertanyaan tentang kepemilikan dan hak cipta dalam pelatihan AI semakin mendesak, memerlukan pemikiran ulang tentang regulasi yang ada.
Dalam episode terbaru Lexicon, kami berbincang dengan Alfredo Esposito, seorang ahli hak digital dan hukum AI, tentang kemunculan DeepSeek, model AI dari China yang dianggap sebagai pesaing ChatGPT. DeepSeek adalah model open-source, yang berarti pengembang dapat melihat, mengubah, dan menjalankannya, berbeda dengan ChatGPT yang lebih tertutup. Meskipun DeepSeek menggunakan pendekatan yang efisien dalam pelatihan, ada keraguan apakah ia benar-benar lebih baik daripada GPT-4. Peluncuran DeepSeek juga berdampak besar pada pasar saham, terutama bagi NVIDIA, yang menyediakan chip untuk pelatihan model AI.
Alfredo juga membahas dampak geopolitik dari pengembangan AI, termasuk sanksi AS terhadap China yang berusaha membatasi akses ke teknologi canggih. Dia berpendapat bahwa meskipun sanksi ini menyulitkan, China mungkin telah menemukan cara untuk terus mengembangkan AI. Selain itu, ada pertanyaan besar tentang kepemilikan model AI dan hak cipta, karena banyak model dibangun dengan menggunakan data yang diambil dari internet. Dengan semua perubahan ini, masa depan AI tidak hanya tentang inovasi, tetapi juga tentang siapa yang mengendalikan kekuatan global.
Analisis Ahli
Alfredo Esposito
Melihat sisi legal dan teknis, ia menegaskan bahwa hak cipta tradisional tak mampu mengatur pelatihan AI dan menilai AI sebagai medan persaingan geopolitik yang baru.

