TLDR
Filter DAC dapat mengurangi emisi CO2 secara signifikan dengan memanfaatkan sistem ventilasi yang sudah ada. Teknologi ini menawarkan keuntungan ekonomi dengan mengurangi biaya energi untuk pemanasan dan pendinginan. Regenerasi filter menggunakan energi terbarukan, menjadikannya solusi yang berkelanjutan untuk pencemaran udara. Para peneliti dari University of Chicago telah menciptakan filter nano karbon inovatif yang bisa dipasang di sistem ventilasi bangunan untuk menangkap karbon dioksida secara efisien. Ini merupakan terobosan penting karena filter ini efektif tanpa harus membangun instalasi besar atau membuang energi berlebihan.Filter ini menggunakan bahan polietilenimin yang diolah dengan serat karbon nano, dan dapat berfungsi seperti filter HEPA tapi dengan kemampuan tambahan untuk menangkap CO2. Selain itu, filter ini dapat diperbarui dan digunakan kembali, berbeda dengan filter biasa yang sering berakhir di tempat pembuangan sampah.Manfaat ekonomis dari teknologi ini juga besar, karena sistem ventilasi tidak harus membawa udara dari luar sebanyak biasanya. Akibatnya, energi yang dibutuhkan untuk memanaskan atau mendinginkan udara berkurang, yang dapat menurunkan tagihan listrik secara signifikan.Filter ini juga mudah diperbarui menggunakan energi panas dari sinar matahari, sehingga proses regenerasi ramah lingkungan dan hemat biaya. Filter jenuh akan dikumpulkan dan diangkut ke fasilitas khusus untuk menghilangkan dan memanfaatkan karbon yang tertangkap, misalnya untuk bahan bakar atau bahan kimia.Selain peran pentingnya dalam penurunan karbon global, teknologi ini juga dapat meningkatkan kualitas udara dalam ruangan, sangat berguna di tempat umum seperti kantor dan ruang kelas yang menampung banyak orang setiap hari.