Awas! WhatsApp dan Telegram Jadi Tempat Paling Banyak Terjadi Penipuan
Teknologi
Keamanan Siber
31 Okt 2025
44 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
WhatsApp dan Telegram merupakan aplikasi utama untuk penipuan di Indonesia.
Sebagian besar korban penipuan terpengaruh oleh penawaran yang tidak realistis.
Dampak emosional dari penipuan dapat menyebabkan stres yang signifikan pada korban.
Penipuan melalui aplikasi pesan instan semakin marak dan menjadi permasalahan serius di Indonesia. Laporan terbaru dari Global Anti-scam Alliance (GASA) dan Indosat Ooredoo Hutchison menunjukkan bahwa banyak pengguna yang menjadi korban di platform seperti WhatsApp dan Telegram.
Data laporan menyebutkan bahwa 67% penipuan terjadi lewat aplikasi pesan singkat, dengan 89% penipuan berasal dari WhatsApp dan 40% dari Telegram. Selain itu, platform media sosial seperti Facebook, Instagram, TikTok, dan X juga menjadi tempat aksi penipuan.
Selain pesan teks, penipuan juga kerap dilakukan melalui panggilan suara dan SMS. Angka penipuan lewat panggilan suara mencapai 64%, sementara lewat SMS sebanyak 59%. Modus penipuan ini sangat beragam dan memanfaatkan kepercayaan serta ketidaktahuan korban.
Alasan orang mudah tertipu antara lain karena tergiur tawaran menarik, penipuan yang sangat meyakinkan, serta aksi penipuan yang cepat dan sulit dikenali. Banyak korban juga masih baru menggunakan platform sehingga belum berpengalaman dalam mendeteksi tanda-tanda penipuan.
Dampak penipuan sangat serius, dimana lebih dari setengah korban mengalami stres berat setelah menjadi target scam. Penting bagi masyarakat untuk lebih waspada dan meningkatkan pengetahuan tentang cara kerja penipuan di dunia digital agar terhindar dari kerugian.
Analisis Ahli
Ahmad Ramli (Pakarnya Keamanan Siber)
Faktor utama penipuan adalah kurangnya kesadaran pengguna mengenai mekanisme dan tanda-tanda scam. Platform digital harus meningkatkan fitur proteksi dan edukasi untuk meminimalisir jumlah korban.Dewi Lestari (Pengamat Sosial Digital)
Pengaruh psikologis seperti ketergesaan dan kepercayaan besar pada tawaran membuat penipuan mudah terjadi. Pendekatan edukasi yang berbasis pengalaman nyata korban bisa lebih efektif.

