Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Mayoritas Warga Indonesia Percaya Bisa Kenali Penipuan tapi Masih Banyak Korban

Teknologi
Keamanan Siber
cyber-security (4mo ago) cyber-security (4mo ago)
31 Okt 2025
294 dibaca
2 menit
Mayoritas Warga Indonesia Percaya Bisa Kenali Penipuan tapi Masih Banyak Korban

Rangkuman 15 Detik

Masyarakat Indonesia memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi dalam mengenali penipuan.
Meskipun percaya diri, banyak yang masih menjadi korban penipuan, terutama dalam investasi.
Penipuan tidak hanya menyasar orang dewasa, tetapi juga anak-anak.
Sebuah laporan terbaru dari Global Anti-scam Alliance dan Indosat Ooredoo Hutchison mengungkap bahwa 86% masyarakat Indonesia percaya diri dalam mengenali penipuan. Meski begitu, kenyataan menunjukkan banyak yang masih menjadi korban. Survei ini dilakukan pada awal tahun 2025 dengan melibatkan 1.000 responden orang dewasa yang tinggal di Indonesia. Dari kelompok yang percaya diri, sekitar 18% menyatakan bahwa mereka selalu bisa mengenali penipuan. Namun, terdapat juga 8% yang kurang percaya diri dan 1% yang merasa tidak sama sekali mampu mengenali penipuan. Ini menunjukkan adanya variasi tingkat kesadaran dan kemampuan masyarakat dalam hal ini. Meskipun sebagian besar merasa mampu mengenali penipuan, sebanyak 35% orang dewasa melaporkan bahwa mereka mengalami penipuan dalam 12 bulan terakhir. Beberapa korban bahkan mengalami penipuan berulang kali dengan 1% mengaku menjadi korban hingga 10 kali, dan 4% mengalami lebih dari 11 kali penipuan dalam setahun. Jenis penipuan yang paling banyak dilaporkan berkaitan dengan investasi sebanyak 63%, diikuti penipuan terkait belanja sebanyak 62%, dan hadiah sebanyak 55%. Penipuan ini tidak hanya mengincar orang dewasa, tapi juga anak-anak, dimana satu dari lima orang tua menyatakan anak mereka pernah menjadi korban penipuan. Laporan ini memperlihatkan bahwa meskipun tingkat kepercayaan diri masyarakat dalam mengenali penipuan cukup tinggi, tantangan dalam mencegah penipuan masih besar. Edukasi dan perlindungan yang lebih intensif sangat dibutuhkan untuk mengurangi risiko penipuan di masa depan.

Analisis Ahli

Ahmad Syarif, Pakar Keamanan Siber
Masyarakat sering percaya diri secara berlebihan sehingga kurang waspada, sementara pelaku penipuan terus berinovasi menggunakan teknik yang semakin canggih, sehingga edukasi dan teknologi deteksi dini adalah kunci utama pencegahan.
Dewi Anggraeni, Pengamat Sosial
Penipuan yang menjangkau berbagai kalangan usia, termasuk anak-anak, menunjukkan perlunya pendekatan pencegahan yang menyeluruh termasuk di lingkungan keluarga dan sekolah.