Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Dilema Pasar Bitcoin: Dolar AS Kuat vs Akumulasi Institusional Besar

Finansial
Mata Uang Kripto
cryptocurrency (4mo ago) cryptocurrency (4mo ago)
29 Okt 2025
119 dibaca
2 menit
Dilema Pasar Bitcoin: Dolar AS Kuat vs Akumulasi Institusional Besar

Rangkuman 15 Detik

Investor terbagi antara siklus pasar crypto dan akumulasi institusional Bitcoin.
Kekuatan dolar AS memiliki dampak signifikan pada pergerakan harga Bitcoin.
Proyeksi bullish untuk Bitcoin pada kuartal keempat didukung oleh faktor makroekonomi yang lebih baik.
Harga Bitcoin sering kali dipengaruhi oleh kekuatan dolar AS yang diukur lewat indeks DXY, di mana sejarah menunjukkan bahwa saat dolar menguat secara tajam, harga Bitcoin sering mencapai puncaknya dan kemudian turun. Namun, siklus ini mulai terlihat berbeda akibat peran baru investor institusional yang melakukan pembelian besar-besaran melalui ETF dan aset kas perusahaan. Kelompok pelaku pasar lama seperti para whale dan Bitcoin OG percaya pada siklus empat tahunan sehingga memilih untuk menjual dan melakukan short saat menduga pasar sedang di puncaknya. Sementara itu, institusi dan investor jangka panjang terus menambah kepemilikan mereka, meyakini bahwa tekanan inflasi dan pelemahan kepercayaan terhadap dolar AS akan memindahkan modal ke aset penyimpan nilai seperti Bitcoin dan emas. Selain dinamika permintaan, kebijakan makroekonomi juga memengaruhi harga Bitcoin. Pada periode 2021-2022, kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve sebanyak sembilan kali secara beruntun membuat aset berisiko termasuk Bitcoin mengalami tekanan. Namun kini, Fed sudah mulai melonggarkan kebijakan suku bunga yang memberi sentimen positif bagi aset kripto. Analisis data menunjukkan bahwa volatilitas harian Bitcoin menurun drastis sejak masuknya dana institusional yang menstabilkan pasar, sehingga pergerakan Bitcoin cenderung lebih tenang dibanding siklus-siklus sebelumnya. Meski demikian, jika indeks dolar AS berbalik menguat ke rentang 105-108, harga Bitcoin bisa mengalami koreksi sebesar 15-25%. Prediksi optimis datang dari sumber analis dan pasar prediksi yang memproyeksikan Bitcoin akan menguat ke kisaran Rp 2.09 miliar ($125,000) hingga Rp 2.25 miliar ($135,000) pada kuartal akhir tahun 2024, terutama didukung oleh akumulasi institusional dan tren pelemahan dolar AS yang berkelanjutan. Namun, risiko koreksi tetap ada jika faktor eksternal berubah.

Analisis Ahli

Jamie Coutts
Menyoroti hubungan historis antara lonjakan DXY dengan puncak harga Bitcoin namun tidak memastikan apakah pola ini akan terulang.
Derek Lim
Menyatakan bahwa korelasi Bitcoin dan dolar hanya sekitar 30% dan pasar sekarang didominasi oleh pemegang jangka panjang yang kurang sensitif terhadap harga, sehingga memberikan prediksi yang lebih optimis.