TLDR
China semakin mengandalkan AI untuk meningkatkan kapabilitas militernya. Pengembangan dan penggunaan teknologi domestik menjadi fokus utama dalam upaya militer China. Kerjasama antara perusahaan teknologi dan militer di China semakin mendalam, dengan potensi dampak besar terhadap strategi pertahanan. China sedang mengembangkan kecerdasan buatan untuk tujuan militer dengan fokus pada kendaraan tempur otonom, robot anjing, dan drone yang dapat menjalankan operasi secara mandiri. Ini merupakan bagian dari usaha untuk mengejar kemampuan teknologi militer Amerika Serikat di tengah persaingan geopolitik yang makin menegangkan.Salah satu contoh nyata adalah kendaraan tempur Norinco P60 yang dapat bergerak dan melakukan operasi dukungan tempur dengan kecepatan 50 kilometer per jam menggunakan teknologi AI dari perusahaan DeepSeek, yang menjadi kebanggaan teknologi China.Militer China masih menggunakan hardware dari Nvidia meski mendapat pembatasan dari Amerika, tetapi mereka juga mempercepat penggunaan chip lokal seperti Huawei untuk membangun sistem AI mereka, mendukung upaya 'kedaulatan algoritma' agar bisa lebih mandiri di bidang teknologi digital.Data yang diperoleh menunjukkan bahwa AI digunakan untuk mengidentifikasi target secara otomatis dan membuat keputusan yang cepat di medan perang, contohnya sistem yang dapat menilai 10.000 skenario berbeda dalam waktu kurang dari satu menit, dibandingkan dengan 48 jam jika dilakukan manusia.Selain itu, China sedang serius mengembangkan drone swarm dan robot anjing militer yang bisa beroperasi secara berkelompok untuk patroli dan menghadapi ancaman, menggambarkan masa depan militer yang terotomatisasi dengan tingkat otonomi yang tinggi.