AI summary
Drone baru ini terinspirasi dari penerbangan serangga, yang memungkinkan pengendalian yang lebih baik. Sistem pengendalian umpan balik yang digunakan memungkinkan drone beradaptasi secara real-time tanpa kecerdasan buatan. Penelitian ini menawarkan wawasan baru tentang penerbangan dan biomekanika yang dapat diterapkan di bidang teknologi lainnya. Para peneliti di University of Cincinnati berhasil mengembangkan drone dengan sayap yang berkedip seperti cara ngengat terbang. Drone ini mampu mengikuti dan mengambang di sekitar sumber cahaya yang bergerak, mirip seperti ngengat yang tertarik pada cahaya. Ide utama di balik teknologi ini adalah meniru penerbangan serangga yang kecil dan gesit untuk membuat drone yang kecil namun sangat stabil dan efisien.Tim yang dipimpin oleh profesor Sameh Eisa dan mahasiswa doktoralnya, Ahmed Elgohary, menggunakan prinsip kontrol yang disebut extremum-seeking feedback. Prinsip ini memungkinkan drone menyesuaikan posisinya tanpa perlu sistem AI rumit ataupun GPS. Setiap sayap drone berkedip secara independen untuk mengontrol gerakan, sehingga drone dapat mengatur arah dan kestabilan secara real-time.Hal menarik dari drone ini adalah gerakan goyangan kecil saat mengambang. Goyangan ini bukan kesalahan, tetapi cara drone mengevaluasi posisinya dan melakukan koreksi mikro demi menjaga keseimbangan dan mengikuti sumber cahaya dengan presisi. Cara kerja ini mirip seperti yang dilakukan serangga lebah, ngengat, dan burung kolibri yang bisa melayang dengan sangat stabil di udara.Drone kecil ini terbuat dari kawat dan kain tipis yang ringan dan dapat mengangkat dirinya sendiri. Percobaan dilakukan dalam lab yang terproteksi sehingga aman untuk pengujian. Hasilnya, drone dapat terbang dan mengambang stabil hanya dengan sistem extremum-seeking tanpa kontrol manual yang rumit dan kurang stabil.Penelitian ini tidak hanya bermanfaat dalam pengembangan teknologi drone untuk pengawasan rahasia dan keadaan lingkungan sulit, tetapi juga memberikan wawasan baru tentang bagaimana hewan kecil di alam melakukan terbang mereka yang sangat lincah dan tepat. Penemuan ini dapat mempengaruhi bidang biophysics dan memberikan pemahaman penting tentang evolusi mekanisme terbang alami.
Penelitian ini sangat menjanjikan karena mengubah paradigma kontrol drone dari model kompleks dan AI ke sistem sederhana yang terinspirasi alam, yang secara teoritis lebih tahan kesalahan dan efisien energi. Pendekatan extremum-seeking feedback sebagai kerangka kontrol real-time bisa merevolusi cara kita mendesain robot mini, menjadikannya lebih handal dan adaptif di lingkungan dinamis.