Otot Buatan dari Korea Selatan yang Bisa Berubah Kaku dan Lentur untuk Robotika Lunak
Teknologi
Robotika
14 Okt 2025
62 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Otot buatan baru dari UNIST mampu mengubah keadaan dari lunak ke kaku, meningkatkan fungsionalitas dalam robotika lunak.
Kombinasi kekuatan dan fleksibilitas dari otot buatan ini memungkinkan aplikasi yang lebih luas dalam berbagai bidang.
Inovasi ini menjanjikan untuk meningkatkan interaksi manusia-mesin dan menciptakan perangkat yang lebih responsif.
Peneliti dari Ulsan National Institute of Science and Technology di Korea Selatan menciptakan otot buatan baru yang bisa mengubah dirinya dari keadaan lunak dan fleksibel menjadi kaku dan kuat, mirip seperti karet yang berubah jadi baja. Ini adalah terobosan penting karena sering kali otot buatan harus memilih antara kuat atau fleksibel, tidak bisa keduanya sekaligus.
Otot buatan ini menggabungkan jaringan polimer silang ganda yang kuat dan lentur, dan partikel magnet yang memungkinkan kontrol menggunakan medan magnet. Kombinasi bahan ini membuat otot bisa menahan beban berat sampai 5 kilogram meski berat ototnya hanya 1,25 gram saja.
Saat dalam keadaan lunak, otot ini bisa meregang sampai 12 kali panjang awalnya dan bisa berkontraksi dengan regangan tinggi mencapai 86,4%, yang lebih dari dua kali regangan otot manusia. Selain itu, densitas kerjanya sangat tinggi yakni 1.150 kJ/m3, 30 kali lebih besar dari jaringan otot manusia.
Teknologi ini menjawab masalah utama dalam pengembangan robot lunak dan perangkat wearable yang harus bisa kuat tapi tetap lentur supaya bisa melakukan berbagai tugas secara lebih fleksibel dan manusiawi. Ini membuka peluang baru untuk prostetik maju dan robot yang bisa menavigasi lingkungan kompleks secara lebih baik.
Inovasi ini ikut melengkapi kemajuan dalam bidang otot buatan, seperti yang baru-baru ini dilakukan oleh MIT yang membuat otot buatan dengan gerakan multi-arah seperti iris mata. Perkembangan ini menjadi langkah maju besar dalam memastikan bahwa teknologi robotik dan wearable bisa makin canggih dan responsif.
Analisis Ahli
Professor Hod Lipson (Robotik dan AI, Columbia University)
Inovasi ini menggarisbawahi pentingnya material adaptif dalam robotika lunak, dan penggunaan magnetik sebagai kontrol eksternal bisa merevolusi cara robot berinteraksi secara dinamis dengan lingkungannya.Dr. Conor Walsh (Profesor Teknik Biomedis, Harvard)
Pengembangan otot dengan work density dan regangan sebesar ini sangat mempercepat potensi prostetik yang lebih natural dan wearable devices yang responsif terhadap pergerakan tubuh.

