Kontroversi Likuidasi Rp4.400 Triliun di Pasar Kripto Oktober 2025
Finansial
Mata Uang Kripto
12 Okt 2025
42 dibaca
2 menit
Rangkuman 15 Detik
Likuidasi pada 10 Oktober merupakan yang terbesar dalam sejarah pasar kripto.
Data yang dilaporkan tentang likuidasi mungkin jauh lebih rendah dari kenyataan, menimbulkan pertanyaan tentang transparansi pasar.
Kondisi pasar kripto tetap tidak stabil dengan potensi dampak lebih lanjut setelah kejadian besar ini.
Pada 10 Oktober 2025, pasar kripto mengalami runtuh besar yang menyebabkan gelombang likuidasi yang luar biasa besar. Data resmi menunjukkan likuidasi sekitar 19 miliar dolar, namun banyak analis memperkirakan jumlah sebenarnya jauh lebih besar, antara 300 hingga 400 miliar dolar. Perbedaan besar ini menciptakan keraguan terhadap validitas data pasar dan transparansi di dunia kripto yang sering diklaim sebagai 'trustless' atau tanpa kepercayaan.
Salah satu faktor utama yang menyebabkan data likuidasi resmi jauh di bawah estimasi sebenarnya adalah throttle atau pembatasan API dari Binance saat tekanan pasar tertinggi. Hal ini menyebabkan banyak transaksi likuidasi tidak tercatat dan undervalued oleh platform pemantauan seperti Coinglass. Akibatnya, data yang digunakan untuk mengambil keputusan pasar dan risiko menjadi tidak akurat.
Laporan dari The Kobeissi Letter yang dikenal memberikan analisis makro pasar menyebutkan bahwa likuidasi ini adalah yang terbesar dalam sejarah pasar kripto, dengan sekitar 1,6 juta trader kehilangan posisi mereka. Bitcoin mengalami fluktuasi harga besar hingga 20.000 dolar dalam satu hari, dengan kapitalisasi pasar bergejolak sampai 380 miliar dolar, angka yang jauh lebih besar dari nilai banyak perusahaan Fortune 500.
Sejumlah ahli dan analis menengarai penyebab runtuhnya pasar ini antara lain adalah kombinasi penggunaan leverage tinggi dalam posisi trading, aktivitas dua whale dengan posisi short besar mendekati titik terendah pasar, dan likuiditas pasar yang tipis sehingga ketika kepanikan muncul, tekanan jual semakin membesar dan menyebabkan liquidasi berantai yang berkontribusi pada kerugian besar tersebut.
Para pemain pasar kripto kini waspada menghadapi kondisi pascatragedi ini yang disebut sebagai 'aftershock conditions' dimana likuiditas tetap tipis dan tingkat pendanaan tidak stabil. Ini membuka pertanyaan serius soal transparansi, dominasi bursa besar, dan kesiapan ekosistem kripto menghadapi tekanan pasar yang ekstrem di masa depan.
Analisis Ahli
Kelly Kellam
Crash ini jauh lebih besar dari yang dilaporkan, mungkin mencapai 300-400 miliar dolar, yang menghancurkan narasi transparansi di kripto.The Kobeissi Letter
Peristiwa ini adalah likuidasi terbesar dalam sejarah kripto dengan tekanan jual yang sangat intens dan rasio likuidasi long terhadap short sebesar 7:1.