XRP Jatuh dan Pulih Drastis, Whales Kembali Beli Setelah Penurunan Besar
Finansial
Mata Uang Kripto
11 Okt 2025
231 dibaca
2 menit
Rangkuman 15 Detik
XRP mengalami penurunan harga yang signifikan tetapi menunjukkan tanda pemulihan melalui akumulasi oleh whale.
Data on-chain menunjukkan bahwa penjualan oleh investor kecil tidak menjadi faktor utama dalam penurunan harga.
Potensi persetujuan ETF dapat menjadi katalisator untuk pemulihan pasar crypto, meskipun ada ketidakpastian terkait penutupan pemerintah AS.
Pada tanggal 10 Oktober, harga XRP mengalami penurunan tajam hingga 42% yang merupakan salah satu penurunan terdalam dalam beberapa tahun terakhir. Harga sempat menyentuh Rp 2.57 juta ($1,54) sebelum akhirnya pulih ke harga sekitar Rp 4.11 juta ($2,46) . Penurunan ini terjadi di tengah perlambatan pasar cryptocurrency secara umum dan karena adanya likuidasi besar oleh para whale.
Volume perdagangan XRP melonjak secara drastis, mencapai lebih dari Rp 359.05 triliun ($21,5 miliar) atau naik 357% dari rata-rata 30 hari sebelumnya. Lonjakan volume ini menunjukkan ada aktivitas perdagangan yang sangat tinggi di tengah pergerakan harga yang ekstrem. Minat pasar terhadap XRP kembali meningkat meskipun harga sempat turun tajam.
Data on-chain menunjukkan bahwa tidak ada peningkatan penjualan token oleh investor biasa. Saldo di bursa tidak berubah banyak dalam sebulan terakhir. Sebaliknya, koreksi harga ini terutama karena likuidasi posisi long yang berlebihan di pasar derivatif dan futures, yang menekan harga secara cepat dan tajam.
Para whale atau pemegang XRP besar justru memanfaatkan situasi ini untuk menambah kepemilikan mereka sebanyak 1,04 miliar token XRP, yang menurut nilai saat ini setara sekitar 2,54 miliar dolar AS. Ini mengindikasikan bahwa penurunan harga dimanfaatkan untuk akumulasi oleh investor berpengalaman.
Selain itu, potensi persetujuan beberapa ETF crypto yang dijadwalkan antara 18 hingga 21 Oktober diperkirakan akan menjadi katalis positif bagi XRP dan pasar crypto secara umum. Namun, adanya penutupan pemerintah AS saat ini dapat menghambat proses persetujuan tersebut dan menambah ketidakpastian pasar.