Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

China Kian Kuat Lawan AS di Perlombaan Teknologi AI Meski Dibatasi

Teknologi
Kecerdasan Buatan
CNBCIndonesia CNBCIndonesia
09 Okt 2025
118 dibaca
2 menit
China Kian Kuat Lawan AS di Perlombaan Teknologi AI Meski Dibatasi

Rangkuman 15 Detik

Perlombaan AI antara AS dan China semakin ketat dan kompleks.
China memiliki kekuatan dan sumber daya yang signifikan untuk mengembangkan teknologi AI mandiri.
Perubahan regulasi dan adopsi teknologi menjadi faktor penting dalam menentukan pemenang dalam industri AI.
Perlombaan pengembangan teknologi AI antara Amerika Serikat dan China semakin memanas, terutama karena berbagai pembatasan yang diterapkan AS terhadap produk teknologi China. Meskipun demikian, China justru semakin cepat berkembang dengan dukungan perusahaan-perusahaan dalam negeri seperti Huawei, Alibaba, dan Baidu. CEO Nvidia, Jensen Huang, menyatakan bahwa AS tidaklah jauh lebih unggul dibandingkan China dalam hal teknologi AI. China mengandalkan model sumber terbuka yang mampu membuat mereka lebih maju dalam mengembangkan AI. Nvidia mengalami kesulitan karena larangan berjualan produknya di China dan larangan untuk perusahaan China memakai produk Nvidia. Sebaliknya, China terus mengembangkan chip AI dalam negeri yang didukung oleh teknologi dan startup canggih seperti Huawei dengan chip Ascend dan perusahaan raksasa Alibaba dan Baidu dengan chip internal mereka. Menurut Jensen Huang, salah satu keunggulan China adalah minimnya regulasi yang memungkinkan penggunaan dan adopsi teknologi baru berlangsung lebih cepat. Hal ini sejalan dengan target Dewan Negara China yang ingin mencapai 70% adopsi AI pada tahun 2027. Perkembangan aplikasi AI yang pesat di China menunjukkan kesiapan negara itu untuk meraih keunggulan dalam perlombaan AI global. Huang optimis peluang kemenangan dalam industri AI ada pada aplikasi AI yang cepat diadopsi oleh masyarakat dan perusahaan. Ia berharap perusahaan-perusahaan AS dapat mempercepat adopsi ini supaya tidak tertinggal oleh China. Pembatasan dan larangan teknologi yang diterapkan oleh AS malah bisa menjadi bumerang jika teknologi AS tidak disebarluaskan secara luas ke pasar dunia. Jika AS menguasai sebagian besar pasar teknologi AI dunia, mereka berpeluang memenangkan persaingan ini. Namun jika penguasaan pasar hanya sebesar 20%, maka AS akan kalah dalam perlombaan teknologi AI ini. Sementara itu, China dengan visi dan strategi pengembangan chip dan AI internal terus memperkuat posisinya sebagai pesaing kuat dalam persaingan global teknologi.

Analisis Ahli

Andrew Ng
China menunjukkan keunggulan dalam skala adopsi aplikasi AI yang mempercepat proses pengembangan dibandingkan AS yang lebih ketat dalam regulasi.
Kai-Fu Lee
Teknologi AI China berkembang dengan pesat karena dukungan ekosistem startup yang kuat dan adaptasi yang cepat dari kebijakan pemerintah.