Mengapa Saham The Trade Desk Kurang Menarik di Tengah Persaingan Ketat
Finansial
Investasi dan Pasar Modal
06 Okt 2025
19 dibaca
2 menit
Rangkuman 15 Detik
The Trade Desk tetap merupakan perusahaan yang kuat dengan retensi pelanggan yang tinggi.
Persaingan dari raksasa seperti Amazon, Alphabet, dan Meta semakin ketat.
Risiko terkait valuasi dan eksekusi membuat saham The Trade Desk tidak menarik untuk dibeli saat ini.
The Trade Desk merupakan platform permintaan sisi digital yang dikenal karena konsistensinya dalam menghadirkan kinerja unggul di industri periklanan, terutama dalam sektor Connected TV (CTV) dan media ritel. Namun, streak lebih dari delapan tahun dalam mengalahkan target pendapatan terhenti pada akhir 2024, menandakan tantangan baru dalam eksekusi bisnisnya.
Meskipun demikian, bisnis The Trade Desk masih menunjukkan daya tahan dengan peningkatan pendapatan 19% tahun ke tahun pada kuartal kedua 2025. Perusahaan juga menjaga loyalitas pelanggan tetap tinggi di atas 95 persen, dan mengembangkan teknologi baru seperti Kokai yang memanfaatkan AI untuk meningkatkan efektivitas kampanye iklan.
Persaingan di pasar semakin ketat karena Amazon memperkuat posisinya melalui hubungan dengan Netflix dan investasi besar di media streaming serta retail. Sementara itu, Alphabet dan Meta terus mendominasi pasar digital dengan keunggulan pengolahan data dan AI yang semakin canggih, membuat The Trade Desk harus berjuang lebih keras untuk mempertahankan relevansi.
Saat ini saham The Trade Desk diperdagangkan pada valuasi yang sangat tinggi, sekitar 60 kali laba dan 9 kali penjualan, yang hanya bisa dibenarkan jika perusahaan mampu tumbuh luar biasa dan menjaga keunggulan kompetitifnya. Risiko terjadinya kesalahan eksekusi menjadi lebih besar sehingga membuat saham ini kurang menarik bagi investor yang mencari imbal hasil optimal.
Kesimpulannya, meski bisnis dan teknologi The Trade Desk masih mengesankan, saat ini lebih bijak bagi investor untuk menunggu harga saham turun atau bukti yang lebih jelas tentang efektivitas teknologi AI dan keunggulan kompetitif. Berinvestasi kini dianggap terlalu berisiko mengingat persaingan dari pemain besar seperti Amazon, Alphabet, dan Meta.
Analisis Ahli
Lawrence Nga
Menyarankan agar investor menunggu harga lebih menarik atau bukti nyata dari keunggulan teknologi sebelum membeli saham, mengingat intensitas persaingan dan risiko eksekusi.