AI summary
Ketersediaan air di IKN sangat minim dan berpotensi menimbulkan ancaman serius. Pembangunan IKN harus mempertimbangkan daya dukung lingkungan dan ketersediaan air. Penerapan konsep Kota Spons dapat membantu mengelola air hujan secara lebih efektif di IKN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap adanya kondisi sumber daya air yang sangat minim di Ibu Kota Nusantara (IKN) melalui kajian ilmiah terbaru. Temuan ini didasarkan pada metode kecerdasan buatan bernama Artificial Neural Network (ANN) yang mampu memprediksi ketersediaan air dari data satelit.Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya 0,51% wilayah IKN yang memiliki ketersediaan air tinggi, sementara sebagian besar air tersimpan dalam vegetasi sekitar 20%. Namun, jika lahan vegetasi ini berubah fungsi menjadi bangunan, maka air yang tersedia akan semakin berkurang.Kondisi minim air ini berpotensi menimbulkan ancaman serius seperti krisis air bersih, penurunan curah hujan, dan pencemaran lingkungan. Selain itu, kedatangan banyak pendatang ke IKN dapat menambah beban kebutuhan air, yang memperparah masalah tersebut.Sebagai solusi, peneliti menyarankan pembangunan infrastruktur air seperti bendungan, embung, serta sistem perpipaan baru. Pendekatan Kota Spons juga dianjurkan agar air hujan dapat diserap tanah dan dimanfaatkan kembali secara alami.Penelitian ini memberikan dasar penting bagi pemerintah untuk merancang kebijakan pembangunan IKN yang berkelanjutan, tidak hanya fokus pada infrastruktur fisik melainkan juga pada pengelolaan sumber daya air agar menjaga kelangsungan hidup masyarakat di masa depan.
Kondisi air yang sangat minim di IKN menjadi alarm penting bahwa proyek pembangunan ibu kota baru harus mengintegrasikan aspek keberlanjutan lingkungan sejak tahap perencanaan. Tanpa strategi komprehensif dalam pengelolaan air, pembangunan IKN yang megah berpotensi berubah menjadi beban ekologis dan sosial yang besar bagi Indonesia.