AI summary
Ketersediaan air di IKN sangat terbatas, hanya 0,51 persen wilayah yang memiliki air tinggi. Penelitian menggunakan teknologi canggih seperti Artificial Neural Network untuk menganalisis data satelit. Solusi untuk mengatasi kelangkaan air termasuk pembangunan infrastruktur dan konservasi lingkungan. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan penelitian mengenai ketersediaan air di wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN) yang baru di Kalimantan menggunakan data satelit sepanjang tahun 2022. Hasilnya menunjukkan bahwa persediaan air di wilayah tersebut sangat terbatas, hanya 0,51 persen wilayah yang memiliki ketersediaan air tinggi.Penelitian ini menggunakan teknologi Artificial Neural Network atau Jaringan Saraf Tiruan (JST) untuk menganalisis citra satelit Sentinel-2A yang diolah melalui Google Earth Engine. Tiga indeks spektral penting yang digunakan adalah Indeks Air Permukaan Tanah (LSWI), Indeks Perbedaan Vegetasi Ternormalisasi (NDVI), dan Indeks Perbedaan Air Ternormalisasi (NDWI).Ketersediaan air yang rendah dapat menimbulkan dampak serius seperti perubahan iklim lokal, penurunan curah hujan, serta penurunan kualitas air yang bisa menjadi asam atau tercemar zat besi. Selain itu, kebutuhan air bersih juga akan meningkat seiring kedatangan pendatang ke IKN.Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah disarankan membangun infrastruktur baru seperti bendungan, sistem perpipaan, embung, dan melakukan konservasi lahan dengan cara reboisasi serta membangun hutan kota. Konsep Kota Spons juga menjadi solusi untuk mengelola air hujan secara alami dan memanfaatkan kembali air.Selain pembangunan fisik, edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menghemat air dan menjaga kebersihan air juga dianggap sangat penting agar sumber daya air yang ada dapat dikelola dengan baik demi keberlangsungan hidup di IKN.
Penelitian ini sangat penting karena memberi gambaran nyata tentang tantangan air di kawasan IKN yang sedang dikembangkan. Solusi yang diusulkan harus segera diimplementasikan dengan pendekatan terpadu agar pembangunan IKN dapat berlangsung berkelanjutan tanpa mengorbankan ekosistem air yang vital.