Perubahan Iklim Picu Krisis Kelangkaan Air Ekstrem Dunia pada 2100
Sains
Iklim dan Lingkungan
01 Okt 2025
207 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Perubahan iklim berpotensi menyebabkan kekurangan air ekstrem di seluruh dunia.
Sebanyak 74% wilayah rawan kekeringan berisiko tinggi mengalami kekeringan parah.
Proyeksi menunjukkan bahwa 35% wilayah akan mengalami kelangkaan air jauh lebih cepat, pada tahun 2030.
Perubahan iklim yang terjadi akibat aktivitas manusia telah menyebabkan sistem air di seluruh dunia mengalami perubahan signifikan. Hal ini berdampak pada penurunan curah hujan, berkurangnya debit sungai, dan meningkatnya kebutuhan air di berbagai wilayah.
Ilmuwan dari Pusat Fisika Iklim IBS di Busan, Korea Selatan, melakukan penelitian dan memproyeksikan daerah yang rentan mengalami kekurangan air ekstrem di masa depan. Mereka mendefinisikan 'hari h' sebagai saat suatu wilayah atau kota benar-benar kehabisan air.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 74% wilayah rawan kekeringan di dunia akan menghadapi risiko kekeringan yang parah dan berkelanjutan jika emisi karbon tetap tinggi. Bahkan 35% wilayah diperkirakan akan kehabisan air lebih cepat, yaitu sekitar tahun 2030.
Diperkirakan sekitar 753 juta orang akan menghadapi risiko kelangkaan air ekstrem, dengan 467 juta di antaranya tinggal di wilayah perkotaan. Wilayah terdampak parah mencakup bagian barat Amerika Serikat, Mediterania, Afrika Utara, Afrika Selatan, India, China Utara, dan Australia.
Meski model ini masih berupa proyeksi, para ilmuwan menyatakan kekhawatiran mereka akan seberapa cepat kondisi ini bisa terjadi, memberikan peringatan penting bagi upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim di masa depan.
Analisis Ahli
Christian Franzke
Model ini memberikan gambaran nyata tentang bagaimana kelangkaan air bisa terjadi lebih cepat dari prediksi sebelumnya, sehingga menggarisbawahi urgensi pengurangan emisi dan integrasi pengelolaan air yang berkelanjutan.

