YouTube Setujui Pengganti 24,5 Juta Dolar atas Gugatan Donald Trump
Teknologi
Keamanan Siber
30 Sep 2025
154 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
YouTube telah menyelesaikan gugatan hukum dengan Donald Trump dengan pembayaran besar.
Sebagian besar dana penyelesaian akan disalurkan untuk mendukung pembangunan di Washington, D.C.
Gugatan ini merupakan bagian dari rangkaian tindakan hukum yang diambil Trump terhadap beberapa platform media sosial.
Pada tahun 2021, Presiden Donald Trump mengajukan gugatan terhadap YouTube, Meta, dan X setelah dia dilarang mengunggah konten di platform mereka. Larangan ini muncul sebagai respons terhadap serangan Capitol pada 6 Januari 2021 yang menimbulkan kekhawatiran atas potensi kekerasan. YouTube, yang dimiliki oleh Google, mengumumkan larangan terhadap Trump pada Januari 2021 karena alasan keamanan.
Setelah proses hukum berjalan, ketiga perusahaan tersebut akhirnya menyelesaikan gugatan dengan membayar sejumlah uang penyelesaian kepada Trump. YouTube setuju membayar total 24,5 juta dolar, dengan 22 juta dolar dialokasikan untuk Trust for the National Mall, sebuah organisasi nonprofit yang bertujuan mendukung pembangunan White House State Ballroom.
Meta, yang sebelumnya dikenal sebagai Facebook, membayar penyelesaian tertinggi sebesar 25 juta dolar pada awal tahun 2024. Sementara itu, X, yang sebelumnya bernama Twitter, membayar sekitar 10 juta dolar pada bulan Februari. Google dan YouTube berusaha menjaga agar pembayaran mereka lebih kecil daripada Meta, menurut laporan Wall Street Journal.
Pembatasan terhadap Trump dicabut oleh YouTube pada Maret 2023 setelah menilai secara hati-hati risiko kekerasan di dunia nyata dan pentingnya memberikan suara yang seimbang untuk para calon nasional utama menjelang pemilihan. Keputusan ini memungkinkan Trump kembali mengunggah video di platform tersebut.
Kasus ini menyoroti ketegangan antara kebebasan berbicara dan tanggung jawab platform digital dalam mengatur konten. Penyelesaian ini bisa mempengaruhi kebijakan sosial media mengenai konten kontroversial di masa depan, serta memicu perdebatan tentang bagaimana perusahaan teknologi menangani tokoh publik yang bermasalah.
Analisis Ahli
Bruce Schneier
Kasus ini menunjukkan kompleksitas yang dihadapi perusahaan teknologi dalam menyeimbangkan kebebasan ekspresi dan keamanan pengguna, terutama di tengah tekanan politik yang intens.Shoshana Zuboff
Ini adalah contoh klasik dari bagaimana kekuatan ekonomi besar perusahaan teknologi dapat berkonflik dengan kepentingan politik dan sosial, menciptakan tantangan baru dalam regulasi digital.

