Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Pemerintah Inggris Beri Pinjaman Rp27 Triliun untuk Jaguar Land Rover Setelah Serangan Siber

Teknologi
Keamanan Siber
TechCrunch TechCrunch
29 Sep 2025
181 dibaca
2 menit
Pemerintah Inggris Beri Pinjaman Rp27 Triliun untuk Jaguar Land Rover Setelah Serangan Siber

Rangkuman 15 Detik

Pemerintah Inggris memberikan dukungan finansial untuk membantu Jaguar Land Rover setelah serangan siber.
Serangan siber ini menunjukkan kelemahan dalam keamanan TI perusahaan dan dampaknya terhadap rantai pasokan.
Kurangnya asuransi keamanan siber dapat menyebabkan kerugian finansial yang signifikan bagi perusahaan.
Jaguar Land Rover (JLR), perusahaan pembuat mobil besar di Inggris, mengalami gangguan serius setelah sistem mereka disusupi oleh peretas. Serangan ini menyebabkan JLR menghentikan produksi mobil selama beberapa minggu, yang berdampak pada perusahaan dan banyak pemasoknya di seluruh Inggris. Untuk membantu JLR menghadapi masalah finansial akibat penghentian produksi, pemerintah Inggris memberikan jaminan pinjaman sebesar 1,5 miliar poundsterling. Pinjaman ini bertujuan menjaga kelangsungan operasi dan mendukung perusahaan-perusahaan kecil yang menjadi pemasok JLR agar tidak bangkrut. Kelompok peretas yang bertanggung jawab diduga terkait dengan aksi kriminal yang sebelumnya menargetkan sektor ritel Inggris. Mereka mencuri data dari sistem JLR, dan perusahaan pun harus membangun kembali jaringan komputer mereka agar produksi bisa dimulai kembali. JLR tidak memiliki asuransi untuk menghadapi kasus serangan siber. Kerugian akibat serangan diperkirakan mencapai 50 juta poundsterling, meskipun perusahaan ini masih mencatatkan keuntungan besar sebelum pajak pada tahun 2024. Namun, langkah pemerintah memberi pinjaman menimbulkan kekhawatiran karena bisa mengurangi motivasi perusahaan untuk meningkatkan keamanan siber. Selain itu, keputusan JLR mengalihdayakan keamanan sibernya ke anak perusahaan Tata Motors yang berbasis di India juga mendapat kritik karena dinilai sebagai titik lemahnya pertahanan siber.

Analisis Ahli

Brian Krebs (Jurnalis Keamanan Siber)
Memberikan bantuan finansial tanpa keharusan memperbaiki mekanisme keamanan siber secara signifikan dapat melemahkan insentif perusahaan untuk berinvestasi dalam perlindungan yang memadai.
Bruce Schneier (Ahli Keamanan Siber)
Kasus JLR menegaskan bahwa keamanan harus menjadi investasi utama dan tidak bisa diserahkan sepenuhnya pada outsourcing tanpa pengawasan ketat.