Waspadai Keracunan Massal Program Makanan Bergizi Gratis di Jawa Barat
Sains
Kesehatan dan Obat-obatan
29 Sep 2025
87 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Pentingnya pemeriksaan laboratorium untuk mencegah keracunan makanan.
Temuan bakteri seperti Salmonella dan Bacillus cereus menunjukkan risiko dalam program MBG.
Kesadaran akan kebersihan dan keamanan pangan harus ditingkatkan untuk mencegah insiden keracunan.
Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Jawa Barat menghadapi masalah serius terkait keracunan massal yang dialami oleh para penerima makanan. Laboratorium Kesehatan Daerah Jawa Barat telah menerima dan memeriksa ratusan sampel makanan dari berbagai daerah untuk memastikan penyebab keracunan tersebut.
Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa sebagian besar sampel yang positif mengandung bakteri berbahaya seperti Salmonella dan Bacillus cereus. WHO juga menjelaskan lima faktor utama penyebab keracunan makanan, yaitu bakteri, virus, parasit, prion, dan kontaminan bahan kimia yang dapat masuk ke rantai makanan.
Selain bakteri, virus seperti Novovirus dan Hepatitis A juga menjadi perhatian, dan parasit seperti cacing pita serta cacing trematoda juga dapat menyebabkan keracunan. Faktor lain berupa prion dan bahan kimia seperti logam berat dan toksin perlu diwaspadai, terutama dalam pengolahan makanan massal.
Laboratorium Kesehatan Jawa Barat menemukan bahwa kebersihan air, peralatan memasak, serta higienitas pekerja sangat berpengaruh pada keamanan makanan MBG. Dengan adanya 20 kejadian luar biasa (KLB) keracunan, pemerintah daerah dan lembaga terkait diajak meningkatkan pengawasan secara ketat.
Penjelasan dari para ahli, terutama Prof Tjandra Yoga Aditama yang pernah menjadi Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, menekankan pentingnya pemeriksaan laboratorium komprehensif dan kehati-hatian dalam pengelolaan program MBG agar kejadian keracunan tidak berulang dan keamanan makanan selalu terjamin.
Analisis Ahli
Prof Tjandra Yoga Aditama
Keracunan makanan bisa terjadi di negara mana pun, dan penting untuk memeriksa lima kategori penyebab utama yang diidentifikasi WHO agar penanganannya tepat sasaran dan mencegah kejadian serupa ke depan.
