Tiongkok Luncurkan Kampanye Ketat Cegah Konten Negatif dan Konflik di Media Sosial
Teknologi
Keamanan Siber
22 Sep 2025
37 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Tindakan penegakan CAC bertujuan untuk mengatur konten media sosial di Tiongkok.
Weibo, Kuaishou, dan Xiaohongshu menjadi sasaran kebijakan baru ini karena konten yang dianggap tidak sesuai.
Budaya 'berbaring' menjadi perhatian khusus bagi pemerintah karena mencerminkan ketidakpuasan generasi muda terhadap kondisi sosial dan ekonomi.
Pemerintah Tiongkok melalui badan regulator internetnya, Cyberspace Administration of China (CAC), mengumumkan kampanye pengetatan selama dua bulan untuk mengawasi konten di media sosial. Tujuannya untuk menangkal konten yang memicu konflik dan pandangan hidup negatif seperti merasa jenuh dunia.
Melalui kampanye ini, CAC menargetkan platform besar seperti Weibo, Kuaishou, dan Xiaohongshu yang dinilai lalai dalam mengendalikan konten mereka. Mereka akan diberikan sanksi disipliner, meskipun rinciannya belum diumumkan secara spesifik.
Kampanye berfokus pada memerangi postingan yang menyebarkan diskriminasi berdasarkan identitas, wilayah, atau gender. Selain itu, penyebaran rumor tentang ekonomi, keuangan, dan kebijakan publik juga menjadi sasaran pemerintah.
Perhatian khusus juga diberikan pada budaya 'lying flat' yang mewakili sikap santai dan menolak gaya kerja keras ekstrem, yang dianggap sebagai pandangan negatif. Ini menggambarkan upaya pemerintah untuk mengubah pola pikir masyarakat muda.
Dengan langkah ini, pemerintah Tiongkok berupaya menciptakan lingkungan online yang lebih tertib dan rasional, meskipun hal ini berpotensi membatasi kebebasan berekspresi di dunia maya.
Analisis Ahli
Dr. Li Wei (Ahli Kebijakan Teknologi Digital)
Tindakan CAC menunjukkan bagaimana kontrol media digital digunakan sebagai alat penguatan kontrol sosial, tapi risiko overregulation dapat stifle inovasi dan membatasi variasi opini yang sehat di ruang publik.

