Disney Naikkan Harga Streaming, Bisakah Pengguna Tetap Bertahan?
Finansial
Investasi dan Pasar Modal
24 Sep 2025
286 dibaca
2 menit
Rangkuman 15 Detik
Disney+ mengalami kenaikan harga yang signifikan, menggandakan harga sejak diluncurkan.
Bundling layanan streaming menjadi pilihan lebih hemat dibandingkan langganan individual.
Kenaikan harga dapat berdampak pada jumlah pelanggan, terutama di tengah kondisi ekonomi yang tidak pasti.
Disney akan menaikkan harga sebagian besar layanan streaming premiumnya mulai 21 Oktober. Disney+ dengan iklan akan naik dari Rp 166.83 miliar ($9,99 m) enjadi Rp 20.02 juta ($11,99) per bulan, dan opsi tanpa iklan naik dari Rp 267.03 miliar ($15,99 m) enjadi Rp 31.71 juta ($18,99) . Ini adalah kenaikan harga keempat berturut-turut sejak layanan diluncurkan pada 2019.
Sejak debutnya dengan harga Rp 11.67 juta ($6,99) per bulan, Disney+ terus menaikkan tarif, beberapa pelanggan seperti pemegang kartu kredit Disney dan anggota D23 mendapatkan harga khusus yang sudah hampir tiga kali lipat. Kenaikan ini membuat berlangganan Disney+ Premium menjadi lebih mahal dari sebelumnya.
Pada akhir Juni, Disney memiliki 183 juta pelanggan Disney+ dan Hulu, dengan pendapatan streaming yang mencapai Rp 103.54 triliun ($6,2 miliar) di kuartal fiskal ketiga. Ini hampir tiga kali lipat pendapatan dari jaringan linear tradisional mereka, yang sedang menurun.
Kenaikan harga ini dilakukan di tengah ekonomi yang tidak pasti dan reaksi publik atas suspensi program Jimmy Kimmel Live! yang berakhir dengan acara Kimmel mendorong pelanggan untuk mengaktifkan kembali langganan Disney+ dan Hulu mereka.
Disney juga membuat keputusan harga yang menarik dengan mengecilkan selisih harga antara paket dengan iklan dan tanpa iklan. Hal ini mungkin taktik untuk mendorong pelanggan beralih ke paket tanpa iklan atau meminimalkan dampak pembatalan langganan dalam waktu dekat.
Analisis Ahli
Rick Munarriz
Kenaikan harga ini sejalan dengan pergeseran strategis Disney untuk mengoptimalkan pendapatan streaming, meski konsumen mungkin merasakan tekanan di tengah ekonomi yang lemah.