Vietnam Blokir 86 Juta Akun Bank Demi Perangi Penipuan dengan Identifikasi Wajah
Finansial
Perbankan dan Layanan Keuangan
24 Sep 2025
219 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Vietnam menerapkan aturan ketat untuk identifikasi biometrik demi memerangi kejahatan keuangan.
Pengguna yang tidak mematuhi aturan dapat kehilangan akses ke rekening bank mereka.
Bitcoin dan aset digital lainnya muncul sebagai alternatif bagi mereka yang terpengaruh oleh regulasi bank.
Vietnam baru saja mengambil langkah tegas dengan memblokir 86 juta akun bank yang tidak mematuhi aturan identifikasi biometrik wajah. Aturan ini bertujuan untuk meningkatkan keamanan transaksi keuangan dan memerangi kejahatan seperti pencurian identitas serta penipuan melalui teknologi canggih seperti AI.
Aturan baru ini mengharuskan pengguna yang melakukan transfer online di atas 10 juta VND atau transfer harian kumulatif lebih dari 20 juta VND untuk melakukan otentikasi biometrik wajah. Jika tidak, rekening mereka akan secara otomatis ditutup mulai 1 September 2025.
Langkah ini diambil setelah terungkap jaringan penipuan yang memanfaatkan teknologi AI untuk menghindari pemeriksaan bank dan mencuci lebih dari 1 triliun VND. Pemerintah berharap dengan sistem ini, kejahatan keuangan yang kian canggih dapat diminimalisir.
Namun, aturan ini tidak berlaku mulus bagi semua pihak. Warga asing dan ekspatriat mengalami kesulitan dalam menerapkan sistem ini, dan pemilik akun yang sudah lama tidak aktif juga tidak bisa melakukan otentikasi lebih lanjut. Hal ini menimbulkan tantangan tersendiri di lapangan.
Selain itu, kebijakan ini mendorong diskusi mengenai peran aset digital seperti Bitcoin yang tidak bergantung pada bank atau sistem identifikasi sentral. Meski memiliki risiko sendiri, aset digital dianggap sebagai alternatif bagi yang ingin menghindari regulasi keuangan tradisional.
Analisis Ahli
Anderson Cooper (Ahli Keamanan Siber)
Langkah Vietnam merupakan contoh nyata bagaimana teknologi biometrik dapat memperkuat sistem keuangan, tapi pemerintah harus memastikan perlindungan data pengguna tetap terjaga dengan baik.Nouriel Roubini (Ekonom)
Sistem ini bisa memperketat pengawasan transaksi bank, tapi juga menimbulkan kekhawatiran privasi dan berpotensi mendorong peralihan ke mata uang digital yang kurang teregulasi.

