Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Robotaxi Mulai Dipakai di Singapura, Era Sopir Tak Lagi Jadi Andalan

Teknologi
Robotika
CNBCIndonesia CNBCIndonesia
21 Sep 2025
281 dibaca
1 menit
Robotaxi Mulai Dipakai di Singapura, Era Sopir Tak Lagi Jadi Andalan

Rangkuman 15 Detik

Robotaxi mulai diperkenalkan di berbagai negara, termasuk Singapura.
Perusahaan-perusahaan asal China dan AS aktif memperluas layanan robotaxi secara global.
Kendaraan otonom dapat membawa perubahan signifikan dalam industri transportasi dan mempengaruhi profesi sopir.
Transportasi tanpa sopir, yang dikenal juga sebagai robotaxi, mulai menjadi kenyataan di berbagai belahan dunia. China dan Amerika Serikat menjadi dua negara yang paling aktif mengembangkan teknologi ini, dan mereka juga mulai membawa tren ini ke negara lain seperti Singapura. Singapura dipilih sebagai lokasi peluncuran robotaxi di Asia Tenggara karena memiliki pemetaan kota yang sangat canggih. Pemetaan ini memudahkan kendaraan otonom untuk mengoperasikan dengan akurat dan aman di jalanan kota. WeRide dan Pony AI dua perusahaan robotaxi asal China bekerja sama dengan Grab Holdings yang ada di Singapura untuk menggelar layanan ini. Mereka akan menguji coba 11 kendaraan sebelum diluncurkan secara resmi pada awal tahun 2026. Pemerintah Singapura juga mendukung teknologi kendaraan otonom ini dan berencana mengintegrasikan kendaraan tersebut ke dalam sistem transportasi umum nasional. Langkah ini diharapkan bisa memperbaiki efisiensi dan kenyamanan transportasi di kota tersebut. Meski membawa banyak kemudahan, keberadaan robotaxi juga menimbulkan kekhawatiran akan hilangnya pekerjaan bagi para sopir mobil biasa. Ini memberikan tantangan tersendiri bagi pemerintah dan masyarakat dalam menyikapi perubahan teknologi ini.

Analisis Ahli

Dr. Agus Santoso (Ahli Transportasi Otonom)
Implementasi robotaxi di Singapura bisa menjadi blueprint untuk kota lain di Asia Tenggara, namun penting untuk memperhatikan aspek regulasi dan kesiapan infrastruktur yang mendukung demi keamanan dan kenyamanan pengguna.
Prof. Lina Wijayanti (Ekonom Teknologi)
Peralihan ke transportasi tanpa sopir memang akan mengguncang sektor pekerjaan, terutama pengemudi tradisional, sehingga diperlukan program sosialisasi dan pelatihan ulang yang masif agar transisi ini berjalan mulus.