Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Gelombang Panas Laut Asia Tenggara dan Pasifik 2024, Ancaman Besar Perubahan Iklim

Sains
Iklim dan Lingkungan
CNBCIndonesia CNBCIndonesia
06 Jun 2025
256 dibaca
2 menit
Gelombang Panas Laut Asia Tenggara dan Pasifik 2024, Ancaman Besar Perubahan Iklim

Rangkuman 15 Detik

Gelombang panas laut di Asia Tenggara dan Pasifik mencapai skala yang mengkhawatirkan.
Kenaikan suhu dan permukaan laut berdampak signifikan terhadap ekosistem dan masyarakat.
Perlunya tindakan iklim yang lebih cepat dan tegas untuk menghadapi perubahan iklim.
Wilayah laut di Asia Tenggara dan Pasifik mengalami gelombang panas laut yang sangat luas pada tahun 2024, dengan suhu rata-rata meningkat sebesar 0,48 derajat Celsius dibandingkan periode 1991 hingga 2020. Kondisi ini memicu berbagai bencana cuaca ekstrem seperti banjir dan longsor yang merugikan banyak orang. Menurut laporan Organisasi Meteorologi Dunia, kenaikan permukaan laut di kawasan ini mencapai hampir 4 milimeter per tahun, lebih tinggi dari rata-rata dunia, yang sangat mengancam keberlangsungan hidup negara-negara kepulauan. Para ahli mengingatkan bahwa waktu untuk bertindak semakin sedikit. Gelombang panas laut menyebabkan peristiwa pemutihan karang massal di Great Barrier Reef, Australia. Tekanan suhu yang tinggi juga membuat banyak spesies laut mengalami stres, yang bisa membuat mereka pindah atau mati jika ambang batas suhu terlampaui. Bencana lain yang terjadi termasuk banjir dan longsor di Filipina, banjir besar di Singapura dan Malaysia, banjir bandang di Sumatra dan Australia utara, serta pencairan gletser di Papua yang diprediksi habis pada 2026. Dampak perubahan iklim ini sangat nyata dan merusak ekosistem serta kehidupan manusia. Laporan ini menegaskan perlunya aksi iklim yang lebih cepat dan tegas khususnya di wilayah Asia-Pasifik yang sangat rentan. Para ilmuwan menekankan bahwa kejadian ini menunjukkan ancaman perubahan iklim yang belum pernah terjadi sebelumnya, sehingga tindakan harus segera diambil.