AI summary
Shein beradaptasi dengan tantangan pasar dengan membuka jaringan manufaktur untuk merek pihak ketiga. Penghapusan kebijakan de minimis di AS berdampak besar pada model bisnis e-commerce seperti Shein dan Temu. Inisiatif Xcelerator dapat memperkuat posisi Shein di pasar fast-fashion dengan memanfaatkan rantai pasok yang ada. Shein adalah perusahaan e-commerce asal China yang menghadapi masalah karena perubahan kebijakan impor dan tarif yang berlaku di Amerika Serikat. Kebijakan yang disebut 'de minimis' dihapus, sehingga barang impor murah dari Shein harus dikenakan pajak lebih tinggi. Hal ini membuat harga barang mereka di pasar AS jadi lebih mahal, yang berdampak negatif pada bisnis mereka.Untuk mengatasi masalah ini, Shein membuat layanan baru bernama Xcelerator. Layanan ini menyediakan fasilitas manufaktur pakaian untuk merek-merek fashion lain dengan siklus produksi yang sangat cepat, hanya 5-7 hari. Ini membantu merek fashion untuk mendapatkan produk dengan desain baru dalam waktu singkat dan menjualnya secara lebih efisien.Layanan Xcelerator ini sudah digunakan oleh sekitar 20 merek, termasuk beberapa label dari Prancis dan Filipina. Selain manufaktur, Shein memberikan fasilitas lain seperti pengembangan sampel produk, gudang, penjualan, dan pemenuhan pesanan. Namun, layanan ini lebih cocok untuk merek dengan kemampuan finansial lebih besar.Shein pernah mencoba beroperasi di Indonesia, tapi akhirnya menutup layanan mereka pada Agustus 2021 karena pemerintah Indonesia khawatir model bisnis mereka akan merugikan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal. Model bisnis Shein yang menghubungkan langsung pabrik ke konsumen membuat harga produk mereka sangat murah.Meski tantangan dari perang tarif dan kebijakan baru semakin berat, Shein tetap menjadi pemain kuat di industri fast fashion dan e-commerce global. Langkah membuka layanan manufaktur untuk pihak ketiga ini menjadi strategi yang cerdas untuk menjaga keunggulan bisnis mereka di masa depan.
Langkah Shein membuka layanan manufaktur untuk pihak ketiga menunjukkan adaptasi bisnis yang cerdas di tengah tekanan regulasi internasional. Namun, fokus pada merek yang lebih besar bisa menutup peluang untuk merek kecil dan menengah, yang justru berpotensi menciptakan ketimpangan dalam ekosistem moda lokal dan global.