Remaja Inggris Bobol Perusahaan Besar AS, Raup Rp 1,9 Triliun Lewat Pemerasan Siber
Teknologi
Keamanan Siber
19 Sep 2025
85 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Hacker remaja telah berhasil melakukan pemerasan besar terhadap perusahaan-perusahaan di AS.
Teknik rekayasa sosial yang sederhana digunakan oleh kelompok Scattered Spider untuk meretas sistem perusahaan.
Kasus ini menyoroti pentingnya keamanan siber dan perlunya perusahaan untuk melindungi data mereka dari serangan.
Seorang remaja berusia 19 tahun bernama Thalha Jubair ditangkap karena menjadi bagian dari kelompok hacker bernama "scattered spider" yang berhasil membobol dan melakukan pemerasan terhadap puluhan perusahaan di Amerika Serikat. Kelompok ini terkenal dengan tekniknya yang menggunakan rekayasa sosial sederhana agar bisa masuk ke sistem perusahaan.
Kelompok itu sendiri terdiri dari remaja dan pemuda berbahasa Inggris yang memiliki kemampuan teknologi tinggi, sehingga mereka disebut "advanced persistent teenagers". Salah satu teknik serangan mereka adalah menghubungi unit bantuan perusahaan dengan berpura-pura sebagai pegawai yang lupa password agar bisa mendapatkan akses.
Departemen Kehakiman Amerika Serikat mengungkap nama Thalha Jubair dalam dokumen tuntutan mereka. Jubair ditangkap di rumahnya yang berada di London Timur, dan ia terlacak terlibat dalam setidaknya 120 serangan siber. Selain itu, ia juga bersama rekannya yang berusia 18 tahun, Owen Flowers, didakwa atas serangan terhadap Transport for London pada tahun 2024.
Dalam aksinya, setelah berhasil masuk ke sistem IT perusahaan, Jubair mencuri data internal dan kemudian mengunci akses server perusahaan tersebut. Untuk membuka kembali akses, perusahaan harus membayar uang tebusan kepada Jubair dan kelompoknya. Dari pembayaran yang terkumpul, totalnya mencapai US$ 115 juta atau sekitar Rp 1,9 triliun.
Ketika pihak berwenang menyita server milik Jubair, mereka menemukan dompet kripto dengan aset senilai US$ 36 juta. Sebagian besar aset tersebut merupakan hasil pembayaran tebusan dari perusahaan-perusahaan korban serangan siber kelompok ini.
Analisis Ahli
Brian Krebs (Jurnalis Keamanan Siber)
Kasus seperti ini memperlihatkan bagaimana kombinasi antara kedewasaan teknologi dan kurangnya kesadaran karyawan menjadi faktor utama dalam insiden peretasan besar.Mikko Hyppönen (Ahli Keamanan Siber)
Kelompok remaja ini menunjukkan bahayanya pendekatan serangan siber berkelanjutan pada infrastruktur penting, memaksa perusahaan untuk meredefinisi protokol keamanan.
