Pemerintah AS Perpanjang Tenggat Divestasi TikTok karena Negosiasi Sulit
Teknologi
Keamanan Siber
15 Sep 2025
7 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Pemerintah AS memperpanjang tenggat waktu divestasi TikTok.
Negosiasi penjualan saham TikTok berlangsung lambat karena memerlukan persetujuan dari pemerintah China.
TikTok memiliki banyak pengguna di AS, namun menghadapi isu keamanan nasional yang serius.
Pemerintah Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump sebelumnya menetapkan batas waktu agar ByteDance menjual bisnis TikTok di AS sebelum 17 September 2025 karena alasan keamanan nasional. ByteDance adalah perusahaan asal China yang memiliki TikTok, platform media sosial populer.
Menurut undang-undang yang diterbitkan pada tahun 2024, tindakan ini diwajibkan untuk mencegah potensi penggunaan aplikasi ini untuk kegiatan mata-mata atau sensor informasi. Namun, negosiasi penjualan ini berjalan lambat karena harus mendapat persetujuan pemerintah China dan karena nilai algoritma TikTok yang sangat penting.
Meski Presiden Trump mengklaim ada banyak perusahaan AS yang berminat membeli TikTok, negosiasi itu belum selesai. Bahkan, kesepakatan hampir tercapai awal 2025 tapi batal setelah Trump meningkatkan tarif impor produk dari China.
Saat ini, perwakilan AS dan China tengah bernegosiasi di Spanyol untuk merundingkan masalah perdagangan, termasuk TikTok. Namun, hasil dari pertemuan ini diperkirakan belum akan terjadi sebelum tenggat tanggal 17 September yang ditetapkan.
Beberapa pihak di AS terus menyuarakan kekhawatiran terhadap TikTok terkait potensi risiko keamanan. Karena itu, pemerintah AS memilih untuk memperpanjang tenggat waktu agar masalah ini dapat diselesaikan secara lebih matang.
Analisis Ahli
David Autor (Profesor Ekonomi, MIT)
Ketegangan perdagangan dan teknologi antara AS dan China sangat berdampak pada perusahaan teknologi yang beroperasi lintas negara, dan kasus TikTok adalah contoh utama di mana kebijakan ekonomi dan keamanan saling bertabrakan.Susan Landau (Ahli Keamanan Siber)
Ketakutan AS terhadap TikTok bukan hanya soal data pengguna, tetapi juga kontrol algoritma yang bisa dimanipulasi untuk tujuan geopolitik, yang menjadikan negosiasi sangat kompleks.
