Indonesia Jadi Negara Paling Bahagia berdasarkan Studi Harvard Global Flourishing
Sains
Neurosains and Psikologi
15 Sep 2025
33 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Indonesia memiliki tingkat kesejahteraan psikologis tertinggi di dunia menurut studi Harvard.
Kesejahteraan tidak hanya ditentukan oleh faktor ekonomi, tetapi juga oleh hubungan sosial dan makna hidup.
Negara dengan penghasilan rendah hingga menengah dapat menunjukkan performa tinggi dalam indikator kesejahteraan.
Indonesia berhasil menjadi negara dengan tingkat kesejahteraan psikologis atau 'flourishing' tertinggi di dunia berdasarkan studi dari Universitas Harvard. Studi ini melibatkan lebih dari 203.000 orang dari 22 negara dengan mengukur berbagai aspek seperti kebahagiaan, kesehatan, makna hidup, dan hubungan sosial.
Dalam penelitian tersebut, Indonesia mendapatkan skor tertinggi 8,3, menunjukkan bahwa banyak warga Indonesia merasa hidup mereka bermakna dan memiliki hubungan sosial yang kuat. Negara-negara lain yang juga menempati peringkat tinggi antara lain Israel, Filipina, dan Meksiko.
Penelitian menunjukkan bahwa kesejahteraan itu bersifat multidimensi dan bukan hanya soal uang atau kesehatan fisik. Banyak negara maju seperti Amerika Serikat memiliki keamanan finansial yang tinggi namun mengalami skor rendah di aspek makna hidup dan hubungan sosial.
Sebaliknya, Jepang menduduki posisi terendah dalam survei ini dengan skor 5,89 karena masyarakatnya lebih jarang memiliki teman dekat, menunjukkan bahwa hidup lama dan kaya tidak selalu menjamin kebahagiaan psikologis.
Hasil studi ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan dan kesejahteraan perlu dilihat dari berbagai sisi, terutama aspek sosial dan karakter pro-sosial. Negara berkembang seperti Indonesia dapat menunjukkan performa yang sangat baik dalam kesejahteraan psikologis meskipun secara ekonomi belum sangat tinggi.
Analisis Ahli
Dr. Sonja Lyubomirsky (Psikolog Positif)
Riset ini memperkuat teori bahwa kesejahteraan subjektif sangat dipengaruhi oleh hubungan sosial dan makna hidup, bukan hanya kekayaan materi. Studi lintas kultur seperti ini penting untuk memahami bahwa kebahagiaan itu multidimensi dan harus diterapkan sesuai konteks budaya masing-masing negara.

