Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Juri California Denda Google 425 Juta Karena Pelanggaran Privasi Pengguna

Teknologi
Keamanan Siber
TheVerge TheVerge
04 Sep 2025
66 dibaca
2 menit
Juri California Denda Google 425 Juta Karena Pelanggaran Privasi Pengguna

Rangkuman 15 Detik

Google diperintahkan untuk membayar $425 juta karena pelanggaran privasi pengguna.
Juri menemukan Google bersalah atas invasi privasi dan intrusi terhadap ketenangan.
Gugatan ini mencakup hampir 100 juta pengguna yang merasa data mereka diakses tanpa izin.
Sebuah juri federal di California memutuskan bahwa Google harus membayar denda sebesar 425 juta dolar AS karena melanggar privasi pengguna dengan mengumpulkan data dari jutaan orang meskipun mereka telah mematikan fitur pelacakan. Kasus ini muncul dari gugatan class action yang diajukan pada Juli 2020, yang menuduh Google terus mengakses data aktivitas aplikasi pengguna secara ilegal dari Juli 2016 hingga September 2024. Pelanggaran ini terkait dengan pengaturan "Web & App Activity" yang seharusnya memungkinkan pengguna mengontrol pengumpulan data oleh Google. Google menggunakan data ini untuk menawarkan pengalaman yang lebih personal kepada pengguna, termasuk iklan yang disesuaikan. Namun, gugatan menyatakan bahwa Google tetap mengumpulkan data meskipun pengaturan tersebut sudah dimatikan. Juri menemukan Google bersalah atas dua dari tiga klaim dalam gugatan, yaitu pelanggaran privasi dan intrusi terhadap kehidupan pribadi pengguna. Gugatan ini meliputi sekitar 98 juta pengguna dan 174 juta perangkat, dan awalnya menuntut kompensasi hingga 31 miliar dolar AS. Namun, putusan juri hanya mengamanatkan denda sebesar 425 juta dolar AS. Google membantah keputusan tersebut dan menyatakan akan mengajukan banding. Perusahaan berargumen bahwa mereka sudah menggunakan data secara pseudonim saat fitur pengumpulan data dinonaktifkan dan bahwa pengguna telah menyetujui praktik tersebut. Juru bicara Google, José Castañeda, mengatakan bahwa keputusan ini salah paham dan bahwa perusahaan menghormati kontrol privasi yang dipilih pengguna. Kasus ini menimbulkan perdebatan penting mengenai batasan pengumpulan data oleh perusahaan teknologi dan bagaimana pengguna dapat yakin bahwa privasi mereka dihormati. Putusan ini bisa menjadi preseden bagi gugatan serupa di masa depan dan mendorong perusahaan teknologi untuk lebih transparan dan jujur tentang praktik pengumpulan data mereka.

Analisis Ahli

Edward Snowden
Kasus ini menunjukkan sekali lagi bagaimana perusahaan teknologi besar seringkali mengabaikan hak privasi pengguna demi keuntungan, dan pentingnya regulasi yang kuat untuk melindungi data pribadi.
Shoshana Zuboff
Ini merupakan contoh nyata dari kapitalisme pengawasan, di mana data pengguna dipanen tanpa persetujuan eksplisit, mengancam kebebasan digital dan privasi individu.