Hakim Tolak Jual Chrome, Google Wajib Buka Data untuk Pesaing di Masa AI Baru
Teknologi
Kecerdasan Buatan
03 Sep 2025
255 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Keputusan hakim akan membentuk ulang cara Google beroperasi dalam industri pencarian online.
Persaingan di industri teknologi semakin meningkat, terutama dengan kemunculan AI.
Google harus mematuhi persyaratan baru untuk meningkatkan transparansi dan persaingan.
Pada Agustus 2024, hakim Amit Mehta menemukan bahwa Google mempertahankan monopoli ilegal dalam pencarian online dengan perjanjian distribusi eksklusif bernilai miliaran dolar setiap tahun. Pemerintah AS menuntut Google agar menjual browser Chrome yang digunakan sebagai pintu utama pencarian online, namun tuntutan ini ditolak dalam putusan terbaru.
Google menanggapi putusan ini dengan menekankan bahwa persaingan di bidang pencarian dan teknologi sangat ketat berkat kemajuan kecerdasan buatan yang memberikan pengguna banyak cara baru menemukan informasi. Namun, mereka menyatakan kekhawatiran terhadap persyaratan berbagi data pencarian dan batasan distribusi yang dikhawatirkan dapat mengganggu privasi pengguna.
Meski tidak memisahkan Chrome dari Google, hakim Mehta memberlakukan sejumlah aturan ketat agar Google membagikan data indeks pencarian dan informasi interaksi pengguna dengan para pesaing yang memenuhi kualifikasi. Ini bertujuan agar perusahaan lain dapat meningkatkan layanan mereka dan meningkatkan persaingan.
Putusan juga mengatur agar Google tidak boleh menggunakan perjanjian eksklusif untuk mendominasi pasar AI generatif, yang merupakan ancaman baru di ranah teknologi pencarian. Sebuah komite teknis akan mengawasi pelaksanaan aturan-aturan ini dan aturan mulai berlaku 60 hari setelah keputusan diresmikan.
Reaksi pasar langsung positif, dengan saham Alphabet (induk Google) naik 7,5 persen dan saham Apple juga meningkat lebih dari 3 persen. Meski demikian, masih ada potensi bagi pemerintah untuk meninjau dan mengupayakan tindakan hukum tambahan untuk memperkuat persaingan di sektor teknologi.
Analisis Ahli
Carl Tobias
Hakim merasa bahwa permintaan DOJ terlalu berlebihan dan berpotensi merusak bisnis, sehingga putusan ini tidak akan mengubah model bisnis Google secara signifikan.
