Nadiem Makarim Jadi Tersangka Korupsi Pengadaan Chromebook Senilai Rp9,3 Triliun
Finansial
Kebijakan Fiskal
04 Sep 2025
285 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Nadiem Makarim ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus korupsi pengadaan laptop.
Kejaksaan Agung menginvestigasi dugaan korupsi yang melibatkan pengadaan TIK di Kementerian Pendidikan.
Kasus ini melibatkan kolaborasi dengan Google Indonesia dalam pengadaan produk teknologi.
Nadiem Makarim, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, resmi ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus korupsi pengadaan laptop Chromebook yang nilainya mencapai Rp9,3 triliun. Kasus ini berfokus pada pengadaan alat teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di Kementerian selama periode 2019-2022.
Kejaksaan Agung telah melakukan penyelidikan dan memanggil sejumlah saksi, termasuk pemeriksaan terhadap Nadiem pada dua kesempatan berbeda. Penetapan Nadiem sebagai tersangka menjadi yang kelima setelah empat orang lainnya sebelumnya telah ditetapkan dalam kasus yang sama.
Penyelidikan menyoroti adanya pertemuan dan kesepakatan antara Nadiem dengan pihak Google Indonesia untuk menggunakan produk Chromebook dalam program Google for Education. Keputusan pengadaan ini dibuat meskipun sebelumnya pemerintah belum memulai proses pengadaan pengganti sesuai standar yang berlaku.
Dalam pelaksanaan pengadaan, terdapat dugaan bahwa spesifikasi teknis telah disesuaikan secara khusus agar produk Google dapat dipilih tanpa proses seleksi yang transparan. Hal ini dinilai mengindikasikan adanya penyimpangan dan potensi keuntungan pribadi yang diraih oleh pelaku korupsi termasuk Nadiem.
Setelah ditetapkan sebagai tersangka, Nadiem langsung ditahan di Rumah Tahanan Salemba selama 20 hari, memperjelas keseriusan aparat penegak hukum dalam menindak kasus korupsi berskala besar di sektor pendidikan ini.
Analisis Ahli
Faisal Basri (Ekonom dan analis kebijakan publik)
Kasus ini mencerminkan lemahnya sistem pengawasan dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah, terutama untuk sektor teknologi yang bernilai sangat besar. Penegakan hukum yang konsisten sangat penting agar korupsi tidak melebar dan berdampak negatif pada kualitas pendidikan nasional.

