TikTok Tumbuh Pesat di Eropa dengan Pendekatan Moderasi Konten Berbasis AI
Bisnis
Marketing
02 Sep 2025
204 dibaca
2 menit
Rangkuman 15 Detik
TikTok mengalami pertumbuhan pengguna yang signifikan di Eropa.
Pendekatan moderasi konten TikTok semakin ditingkatkan dengan deteksi otomatis.
Meskipun mengurangi staf moderasi manusia, TikTok berhasil meningkatkan efisiensi deteksi pelanggaran.
TikTok mengalami peningkatan pengguna yang signifikan di wilayah Uni Eropa, dengan pertumbuhan 25% sejak September 2023 dan kini mencapai 170 juta pengguna di seluruh Eropa. Popularitas aplikasi ini juga sangat tinggi di negara-negara lain seperti Amerika Serikat dan Brasil, serta versi lokal di China yang bernama Douyin.
Dalam periode Januari hingga Juni 2025, TikTok menghapus hampir 24,5 juta konten yang melanggar pedoman komunitas, meningkat 15% dibandingkan laporan sebelumnya. Penghapusan konten ini termasuk materi seksual dan berbahaya yang sering menjadi fokus pengawasan di beberapa pasar Uni Eropa.
Meskipun jumlah staf moderator manusia dikurangi sebesar 26%, TikTok meningkatkan penggunaan deteksi otomatis berbasis AI untuk mengidentifikasi pelanggaran, khususnya dalam kategori keselamatan anak muda dan masalah kesehatan mental. Proporsi deteksi otomatis kini mencapai lebih dari 70%, menandakan peningkatan efisiensi moderasi.
Selain pengawasan konten, TikTok juga memperketat penghapusan iklan yang melanggar aturan, seperti iklan dewasa dan politik. Perusahaan menghapus 2,5 juta iklan dalam periode pelaporan, yang merupakan lonjakan signifikan dan sekaligus mendukung pengembangan fitur belanja di aplikasi untuk pasar Eropa.
Secara keseluruhan, TikTok menunjukkan komitmen kuat untuk memperbaiki sistem moderasi dan menegakkan peraturan dengan teknologi canggih, sambil memperluas pengaruhnya di Eropa. Meskipun ada tantangan seperti menurunnya deteksi otomatis untuk konten seksual pada iklan, strategi ini dapat menjadi model bagi platform digital lain.
Analisis Ahli
Dr. Andri Setiawan (Pakar Media Digital Indonesia)
Penggunaan AI secara masif untuk moderasi memang efisien, tetapi kurangnya intervensi manusia bisa menyebabkan kesalahan dalam penilaian konten yang sensitif dan berisiko menimbulkan ketidakadilan dalam penegakan aturan.