TLDR
Coca-Cola sedang mengevaluasi strategi kopi mereka karena penurunan volume penjualan. Akuisisi Costa Coffee oleh Coca-Cola mungkin tidak memberikan hasil yang diharapkan. Perusahaan terus membagikan dividen meskipun menghadapi tantangan di pasar kopi. Coca-Cola menghadapi tantangan terkait bisnis kopinya, terutama karena penurunan volume penjualan kopi di segmen Global Ventures yang turun 3% pada tahun 2024. Segmen ini sekarang hanya menyumbang sekitar 6,7% dari total penjualan perusahaan. Kondisi ini membuat manajemen Coca-Cola mulai mempertimbangkan kembali strategi bisnis kopi mereka.Salah satu langkah yang sedang dipertimbangkan adalah penjualan Costa Coffee, kedai kopi yang diakuisisi oleh Coca-Cola pada tahun 2018 seharga £3,9 miliar. Namun, saat ini nilai penjualan diperkirakan hanya akan mencapai £2 miliar, yang berarti kerugian hampir setengah dari harga pembelian awal.Meskipun penjualan Costa Coffee pada 2023 meningkat 9% menjadi £1,22 miliar dibandingkan tahun sebelumnya, angka ini masih di bawah penjualan saat diakuisisi. Costa Coffee memiliki lebih dari 2.000 toko di Inggris dan lebih dari 3.000 secara global, namun tekanan dari kompetitor dan biaya inflasi semakin memperberat bisnis ini.Di luar masalah kopi, Coca-Cola masih menunjukkan performa yang stabil pada hasil kuartal kedua tahun 2025, dengan kenaikan penjualan bersih 1% menjadi $12,5 miliar dan kenaikan organik sebesar 5%. Mereka juga mempertahankan proyeksi pertumbuhan tahunan yang positif, serta terus meningkatkan dividen tahunan yang memberikan hasil sekitar 2,9%.Ke depan, Coca-Cola mungkin akan fokus pada konsolidasi dan efisiensi bisnis dengan melepas aset yang kurang menguntungkan seperti Costa Coffee. Hal ini menjadi langkah strategis penting untuk memastikan pertumbuhan perusahaan tetap berkelanjutan dan menjaga kepercayaan investor.