Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Apakah Saham Coca-Cola Layak Dibeli Saat Harga Turun? Analisis Lengkap

Finansial
Investasi dan Pasar Modal
YahooFinance YahooFinance
09 Okt 2025
2 dibaca
2 menit
Apakah Saham Coca-Cola Layak Dibeli Saat Harga Turun? Analisis Lengkap

Rangkuman 15 Detik

Coca-Cola menunjukkan potensi undervaluasi berdasarkan analisis DCF.
Rasio PE Coca-Cola mendekati rasio yang adil, mencerminkan stabilitas pertumbuhan dan risiko.
Sentimen pasar dapat mempengaruhi harga saham, meskipun fundamental perusahaan tetap kuat.
Saham Coca-Cola yang baru-baru ini diperdagangkan pada harga sekitar Rp 1.10 triliun ($66,12 m) enunjukkan penurunan dalam beberapa minggu terakhir. Meski begitu, jika dilihat dari tahun ke tahun, saham ini masih mencatat kenaikan sebesar 6,9%, dengan performa jangka panjang yang mengesankan yakni 31,2% dalam tiga tahun terakhir dan 53,5% dalam lima tahun. Penurunan harga saham jangka pendek kemungkinan disebabkan oleh perubahan sentimen pasar dan faktor makroekonomi. Investor tampaknya sedang mencoba menilai apakah merek ikonik seperti Coca-Cola dapat terus menjaga daya saing dalam menghadapi perubahan ekonomi dan tekanan harga yang mungkin muncul. Dalam analisis valuasi, metode Discounted Cash Flow (DCF) menunjukkan bahwa Coca-Cola saat ini undervalued. Meskipun free cash flow terakhir negatif sebesar Rp 10.60 triliun ($634,5 juta) , proyeksi hingga 2035 menunjukkan arus kas yang membaik signifikan, dengan nilai intrinsik saham diperkirakan sekitar Rp 155.98 juta ($93,40) per saham. Rasio Price-to-Earnings (PE) Coca-Cola saat ini adalah 23,36x, sedikit lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata pesaingnya yang 26,06x, dan agak mendekati rasio wajar internal yang dinilai berdasarkan prospek dan risiko perusahaan, yakni 24,46x. Ini menjadikan valuasi saham relatif seimbang dibandingkan dengan risiko dan pertumbuhan yang diharapkan. Metode narasi memungkinkan investor menggabungkan pandangan pribadi tentang masa depan Coca-Cola dengan data keuangan, menghasilkan estimasi fair value yang berkisar antara Rp 112.72 juta ($67,50) hingga Rp 129.91 juta ($77,79) per saham. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan pandangan investor terhadap prospek pertumbuhan dan harga saham di masa depan.

Analisis Ahli

Warren Buffett
Coca-Cola adalah salah satu perusahaan dengan merek paling kuat di dunia, dan saya percaya nilai jangka panjangnya lebih dari sekadar fluktuasi harga saham sesaat.
Aswath Damodaran
DCF model menunjukkan potensi signifikan pada Coca-Cola, namun investor harus tetap waspada terhadap asumsi pertumbuhan dan risiko makroekonomi yang bisa mempengaruhi hasil akhir.