Pasar HP Indonesia Lesu, Transsion Kuasai dan Kalahkan Samsung di Q2 2025
Teknologi
Gadgets dan Wearable
25 Agt 2025
79 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Industri HP di Indonesia mengalami penurunan yang signifikan dibandingkan negara lain di Asia Tenggara.
Transsion berhasil menjadi pemimpin pasar HP di Indonesia dengan pertumbuhan yang mengesankan.
Perusahaan-perusahaan seperti Oppo dan Vivo mengalami kesulitan dan penurunan pertumbuhan yang drastis.
Pasar ponsel pintar di Indonesia mengalami penurunan yang cukup signifikan pada kuartal kedua tahun 2025, dengan pertumbuhan mencapai -3,5% dibandingkan tahun sebelumnya. Indonesia merupakan negara dengan penurunan pertumbuhan pasar HP terparah di kawasan Asia Tenggara, yang mana negara lain seperti Filipina dan Malaysia justru mengalami pertumbuhan yang positif. Faktor ekonomi dan pergeseran pola konsumsi menjadi alasan utama di balik perlambatan ini.
Di tengah kondisi pasar yang melemah, muncul pemain baru yang berhasil mengambil pangsa pasar besar, yakni Transsion, perusahaan asal China yang menaungi merek Infinix, Tecno, dan Itel. Transsion berhasil menduduki posisi pertama pasar HP di Indonesia dengan pangsa pasar 21,5% dan pertumbuhan pengapalan sebesar 9,5% tahun-ke-tahun. Keberhasilan ini juga memperkuat posisinya sebagai pemimpin pasar sepanjang tahun 2024 lalu dengan pangsa pasar 18,3%.
Samsung masih menempati posisi kedua dengan pangsa pasar 18,5% dan mengalami pertumbuhan sebesar 7% YoY di Indonesia. Sementara itu, merek Xiaomi memimpin posisi ketiga walaupun hanya mampu tumbuh tipis sebesar 0,2%. Di sisi lain, Oppo dan Vivo justru menunjukkan penurunan yang cukup drastis, masing-masing -29,2% dan -32,1% YoY, menandakan tantangan serius bagi kedua merek tersebut untuk mempertahankan posisi mereka.
Di tingkat Asia Tenggara, Samsung tetap menjadi raja pasar HP dengan pertumbuhan 15,9% YoY, diikuti oleh Transsion yang tumbuh 13,6% dan Xiaomi dengan 6,7%. Namun, Oppo dan Vivo menunjukkan tren negatif, dengan Oppo mengalami penurunan paling tajam sebesar 20,9% dan Vivo 17,5%. Faktor persaingan harga dan produk menjadi kunci utama dalam memenangkan pasar di kawasan ini.
Secara keseluruhan, laporan IDC menunjukkan bahwa konsumen di Asia Tenggara semakin mengutamakan pilihan ponsel dengan harga terjangkau dan spesifikasi mumpuni. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, merek seperti Transsion yang menawarkan produk berkualitas dengan harga rendah berhasil menangkap peluang dan merebut pangsa pasar yang signifikan dari pesaing lama seperti Samsung, Xiaomi, Oppo, dan Vivo.
Analisis Ahli
Hoon Yik Phang
Pertumbuhan pasar Malaysia didorong oleh segmen HP dengan harga di bawah US$100 karena perubahan kebiasaan konsumen ke opsi yang lebih terjangkau di tengah ketidakpastian ekonomi.

