Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Pasar HP Global Melambat, Indonesia dan China Alami Penurunan Terparah di Asia Tenggara

Teknologi
Gadgets dan Wearable
CNBCIndonesia CNBCIndonesia
20 Agt 2025
233 dibaca
2 menit
Pasar HP Global Melambat, Indonesia dan China Alami Penurunan Terparah di Asia Tenggara

Rangkuman 15 Detik

Pasar HP global mengalami pertumbuhan yang melambat dengan penurunan signifikan di China.
Indonesia mencatat penurunan terbesar di pasar HP Asia Tenggara dengan pengapalan yang anjlok 3,5%.
Transsion tetap menjadi pemimpin pasar di Indonesia meskipun ada penurunan di merek lain seperti Oppo dan vivo.
Pasar ponsel secara global hanya tumbuh tipis 1% pada kuartal II tahun 2025, lebih rendah dari kuartal sebelumnya yang mencapai 1,5%. Perlambatan ini disebabkan oleh kondisi pasar ponsel di China yang mengalami penurunan sebesar 4%. China sebagai pasar ponsel terbesar dunia memberikan dampak signifikan pada perlambatan pertumbuhan global tersebut. Indonesia juga menunjukkan tren menurun yang cukup dalam pada pengapalan ponsel, turun 3,5% dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini menjadi yang terburuk di antara negara-negara Asia Tenggara lainnya. Vietnam juga mengalami penurunan, namun dengan angka yang lebih kecil yaitu 1,7%. Sebaliknya, beberapa negara Asia Tenggara justru mencatat pertumbuhan positif. Filipina menduduki posisi teratas dengan pertumbuhan sebesar 17,2%, diikuti oleh Malaysia yang tumbuh 7,8%, Thailand 4%, dan Singapura 2%. Pertumbuhan ini menunjukkan adanya perbedaan pola pasar di kawasan tersebut. Di Malaysia, pertumbuhan pasar ponsel didorong oleh segmen produk dengan harga di bawah Rp 1.67 juta (US$100) atau sekitar Rp1,6 juta yang semakin diminati oleh konsumen dalam kondisi ekonomi yang tidak pasti. Hal ini menunjukkan konsumen semakin berhati-hati dalam berbelanja dan memilih produk yang lebih terjangkau. Di pasar Indonesia, Transsion tetap memimpin dengan pangsa pasar 21,5% dan mencatat pertumbuhan terbesar di antara para pesaingnya. Samsung berada di posisi kedua dengan pertumbuhan 7% YoY, sementara Xiaomi hanya tumbuh tipis 0,2%. Oppo dan Vivo justru mengalami penurunan drastis masing-masing 29,2% dan 32,1% YoY, yang menandakan persaingan pasar yang ketat.

Analisis Ahli

Hoon Yik Phang
Pertumbuhan positif di Malaysia didorong oleh preferensi konsumen terhadap ponsel dengan harga di bawah US$100, yang mencerminkan perubahan kebiasaan belanja di tengah ketidakpastian ekonomi.