Apakah Boneka Chatbot A.I. Bisa Gantikan Layar untuk Anak-Anak?
Teknologi
Kecerdasan Buatan
17 Agt 2025
298 dibaca
2 menit
Rangkuman 15 Detik
Mainan A.I. seperti Grem dapat mengurangi waktu layar, tetapi mungkin tidak menggantikan interaksi manusia yang penting.
Ada kekhawatiran bahwa produk ini dapat mengalihkan rasa ingin tahu anak-anak ke dalam dunia digital.
Penting bagi orang tua untuk mempertimbangkan dampak psikologis dari mengizinkan anak-anak bermain dengan mainan berbasis A.I.
Beberapa perusahaan startup meluncurkan boneka plushie yang dilengkapi dengan chatbot A.I. sebagai cara baru menghibur anak tanpa menggunakan perangkat layar seperti tablet atau televisi. Boneka ini dirancang agar anak-anak bisa berbicara dan bermain bersama mereka dengan harapan mengurangi waktu screen time yang sering mendapat kritik.
Amanda Hess dari The New York Times mencoba berinteraksi dengan salah satu boneka bernama Grem yang dikembangkan oleh startup Curio. Ia merasa interaksi dengan Grem terasa berbeda dan akhirnya membuatnya khawatir jika boneka itu malah menjadi pengganti kehadirannya sebagai orang tua.
Meski boneka-boneka ini tampil lucu dan menarik secara visual, Hess berargumen bahwa pada dasarnya mereka tetap menggunakan teknologi yang membuat anak-anak seolah-olah berinteraksi dengan perangkat yang sama seperti ponsel atau tablet. Jadi, bukan berarti anak benar-benar bebas dari pengaruh teknologi layar.
Setelah menguji, Hess sendiri memilih untuk melepas modul suara pada boneka tersebut sehingga anak-anak hanya bermain secara fisik dengan boneka tanpa chatbot. Setelah itu, mereka masih memperbolehkan anak menonton TV sebagai aktivitas berikutnya, menunjukkan bahwa boneka bukan solusi sempurna.
Kisah ini mengangkat pertanyaan penting tentang bagaimana teknologi baru harus digunakan untuk anak-anak dan menyoroti kebutuhan akan interaksi manusia yang nyata daripada bergantung pada perangkat teknologi, meski dikemas dalam bentuk mainan yang lucu sekalipun.
Analisis Ahli
Sherry Turkle
Teknologi yang terlalu canggih sebagai pengganti interaksi manusia dapat menyebabkan anak-anak kehilangan kemampuan berempati dan berkomunikasi secara emosional.

