Sel Sperma Tikus Tetap Sehat Setelah Enam Bulan di Stasiun Luar Angkasa
Sains
Kesehatan dan Obat-obatan
15 Agt 2025
144 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Penelitian menunjukkan bahwa sel induk spermatogonial dapat bertahan dalam kondisi luar angkasa dan menghasilkan keturunan yang sehat.
Cryopreservation dapat menyebabkan kerusakan yang lebih besar pada sel dibandingkan dengan paparan lingkungan luar angkasa.
Studi ini membuka jalan untuk pengembangan metode menjaga kesuburan selama misi luar angkasa yang panjang.
Menjalani hidup di luar angkasa sangat menantang bagi tubuh manusia karena tidak ada gravitasi yang memengaruhi fungsi tubuh secara normal. Masalah yang sering muncul antara lain penurunan massa otot dan kepadatan tulang. Hal ini membuat para ilmuwan penasaran bagaimana lingkungan ruang angkasa memengaruhi kemampuan sel reproduksi dalam menghasilkan keturunan yang sehat.
Para peneliti dari Kyoto University mengambil sel punca penghasil sperma dari tikus, membekukannya dengan teknik cryopreservation, dan mengirimkannya ke Stasiun Luar Angkasa Internasional. Sel tersebut disimpan dalam kondisi beku selama enam bulan sebelum dikembalikan ke Bumi untuk dianalisis.
Setelah thawing dan proses perbanyakan di laboratorium, sel-sel ini ditransplantasikan kembali ke testis tikus. Dalam tiga hingga empat bulan, tikus tersebut berhasil kawin dan menghasilkan anak-anak yang sehat dengan ekspresi gen yang normal, tanpa tanda-tanda kelainan. Ini membuktikan sel punca tersebut tahan terhadap kondisi ruang angkasa.
Namun, penelitian menemukan bahwa kerusakan yang terjadi lebih banyak disebabkan oleh bahan kimia yang digunakan dalam proses pembekuan, bukan oleh paparan langsung lingkungan ruang angkasa selama enam bulan. Hal ini penting karena menunjukkan bahwa teknik cryopreservation perlu perbaikan untuk misi jangka panjang.
Meski hasil pertama ini menjanjikan, para peneliti masih harus melakukan studi lebih lanjut untuk mengevaluasi kesehatan jangka panjang, umur, dan kemampuan reproduksi keturunan yang dihasilkan. Penelitian ini membuka jalan bagi penerapan di misi manusia jangka panjang dan prokreasi di luar angkasa.
Analisis Ahli
Mito Kanatsu-Shinohara
Penelitian ini penting untuk memahami batas penyimpanan sel punca sperma dan potensi kesuburannya dalam misi ruang angkasa jangka panjang.

