AI summary
Skydweller Aero berhasil mengembangkan pesawat tanpa awak bertenaga surya dengan kemampuan terbang berkelanjutan. Pesawat ini menawarkan solusi baru untuk pengawasan dan pengintaian dengan biaya operasional yang lebih rendah. Penggunaan teknologi solar memungkinkan pesawat ini untuk terbang tanpa perlu mendarat untuk pengisian bahan bakar. Skydweller Aero, sebuah startup aerospace asal Amerika Serikat, berhasil menerbangkan drone bertenaga surya selama hampir tiga hari nonstop. Drone ini memiliki sayap yang lebih lebar dari pesawat Boeing 747, dilengkapi dengan 17.000 sel surya yang menghasilkan listrik untuk menggerakkan motor dan mengisi baterai besar.Selama siang hari, energi matahari digunakan untuk operasi penerbangan dan pengisian baterai. Sementara saat malam tiba, drone tetap dapat terbang menggunakan tenaga baterai yang telah diisi sebelumnya, memungkinkan penerbangan berkelanjutan hampir tanpa henti.Drone ini bisa terbang hingga 30-90 hari, hanya perlu mendarat untuk perawatan mekanis, bukan untuk bahan bakar. Dengan kemampuan membawa muatan hingga 400 kilogram, Skydweller sangat unggul dibandingkan drone solar sebelumnya yang bobot muatannya kecil.Angkatan Laut AS dan unit terkait sedang mengevaluasi drone ini untuk misi intelijen, pengawasan, dan pengintaian, terutama di wilayah yang luas seperti yang diawasi oleh U.S. Southern Command. Ini memungkinkan pengawasan terus menerus dengan biaya lebih rendah dan mengurangi risiko bagi pilot.Selain penggunaan militer, teknologi ini juga berpotensi untuk aplikasi komersial, seperti pengumpulan data atmosfer dan pemantauan lingkungan, berkontribusi pada penelitian ilmiah dan pengelolaan sumber daya alam.
Terobosan dalam teknologi drone surya ini sangat menjanjikan untuk memperpanjang durasi misi tanpa perlu bergantung pada bahan bakar fosil atau pengisian ulang manual. Namun, masih perlu pengujian lebih lanjut terkait keandalan dalam kondisi cuaca buruk dan dampak lingkungan dari produksi baterai besar tersebut.