AI summary
Penelitian ini menunjukkan potensi mikroba kuno dalam menemukan antibiotik baru. AI memainkan peran penting dalam mempercepat proses penemuan calon antibiotik. Archaeasins dapat menjadi solusi untuk mengatasi bakteri resisten obat yang sulit diobati. Para peneliti dari Universitas Pennsylvania menggunakan kecerdasan buatan untuk menemukan senyawa antibiotik baru pada mikroba kuno yang disebut Archaea. Mikroorganisme ini telah ada selama miliaran tahun dan hidup di lingkungan ekstrem seperti sumber air panas dan ventilasi bawah laut.Archaea berbeda dari bakteri biasa baik secara genetik maupun biokimia, sehingga memiliki potensi sebagai sumber senyawa antimikroba yang unik. Peneliti menggunakan alat AI bernama APEX yang dilatih untuk mengenali peptida dengan kemampuan antimikroba.Dengan menganalisis 233 spesies Archaea menggunakan APEX, mereka menemukan lebih dari 12.000 kandidat antibiotik baru yang dinamakan 'archaeasins'. Setelah diuji, sebagian besar menunjukkan kemampuan melawan bakteri yang resisten terhadap obat-obatan.Archaeasins bekerja dengan menyerang sistem kelistrikan dalam sel bakteri, berbeda dari antibiotik lain yang biasanya menyerang bagian luar sel. Beberapa senyawa ini bahkan berhasil menghentikan pertumbuhan bakteri resisten pada uji coba hewan, hasil yang sangat menjanjikan.Ke depan, peneliti berencana meningkatkan kemampuan AI untuk prediksi yang lebih akurat dan berharap dapat membawa senyawa baru ini ke tahap uji klinis pada manusia guna melawan infeksi yang sulit diobati saat ini.
Pemanfaatan AI dalam eksplorasi mikroba kuno seperti Archaea menandai revolusi dalam pendekatan penemuan obat, melewati metode tradisional yang lambat dan terbatas. Namun, tantangan terbesar adalah memastikan keamanan dan efektivitas senyawa baru ini dalam uji klinis manusia yang memerlukan waktu dan investasi besar.