AI summary
Diet dengan makanan yang diproses minimal lebih efektif untuk penurunan berat badan dibandingkan dengan diet makanan ultra-proses. Keterjangkauan dan ketersediaan UPF dapat mempengaruhi pilihan diet, terutama di kalangan masyarakat berpenghasilan rendah. Penelitian ini menyoroti pentingnya mempertimbangkan dampak makanan ultra-proses dalam rekomendasi diet nasional. Sebuah studi terbaru di Inggris menunjukan bahwa orang yang mengonsumsi makanan minim proses dapat menurunkan berat badan lebih banyak dibanding mereka yang mengonsumsi makanan ultra-olahan, meskipun diet pada kedua kelompok mengikuti panduan gizi resmi negara tersebut.Makanan ultra-olahan adalah produk makanan yang dibuat dengan banyak bahan tambahan dan proses industri, yang membuatnya murah dan mudah didapat tetapi tidak sehat karena kandungan garam, gula, dan kemampuannya untuk memicu kelebihan konsumsi kalori.Penelitian dilakukan terhadap 55 orang dewasa yang mengikuti dua fase diet selama 8 minggu; satu fase dengan makanan minim proses dan satu fase dengan makanan ultra-olahan, dengan jeda 4 minggu di antaranya.Hasilnya menunjukkan bahwa rata-rata peserta kehilangan berat badan lebih dari dua kali lipat saat mengonsumsi makanan minim proses, juga mengalami penurunan massa lemak dan keinginan makan yang berkurang, hal yang tidak terjadi pada fase diet ultra-olahan.Temuan ini menggarisbawahi pentingnya memperhatikan jenis makanan dalam rekomendasi diet nasional dan bagaimana lingkungan makanan yang didominasi makanan ultra-olahan mempersulit upaya menjaga berat badan terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Studi ini menggarisbawahi bahwa kualitas pemrosesan makanan sangat krusial dalam pengaturan berat badan, bukan hanya kandungan makronutriennya. Jika kebijakan publik tidak menyesuaikan dengan temuan ini, upaya menurunkan angka obesitas mungkin akan terus terhambat meskipun pedoman gizi sudah diikuti.