AI summary
Stablecoin dapat mengubah lanskap keuangan global dan meningkatkan persaingan antara mata uang. Tiongkok menghadapi tantangan untuk segera mengadopsi teknologi keuangan baru agar tidak tertinggal dari AS. Regulasi yang tepat terhadap stablecoin diperlukan untuk mencegah risiko sistemik dalam ekonomi. Amerika Serikat kini kembali ke zaman dimana perusahaan bisa menerbitkan mata uang sendiri melalui kemajuan teknologi blockchain, dengan stablecoin sebagai bentuk utama yang dipatok pada dolar AS. Legislasi baru seperti GENIUS Act memberikan kerangka hukum pertama untuk stablecoin di AS, memperkuat posisi negara ini sebagai pusat kripto dunia.Keputusan AS ini memaksa sejumlah negara, terutama China, untuk menentukan sikap soal stablecoin. China yang sudah melarang cryptocurrency secara resmi sejak 2021, kini mulai melakukan kajian serius tentang potensi stablecoin renminbi, agar tidak tertinggal dalam inovasi keuangan digital global dan menjaga pengaruh yuan dalam perdagangan internasional.Hong Kong sebagai pusat keuangan otonom mulai membuka aplikasi untuk stablecoin yang dipatok pada dolar Hong Kong, dan berpotensi menjadi tempat pengujian stablecoin renminbi. Karena nilai dolar Hong Kong juga terikat pada dolar AS, langkah ini dinilai juga mendukung hegemoni dolar global.Namun, penyebaran stablecoin membawa risiko baru, seperti potensi krisis keuangan akibat kebutuhan cadangan likuid yang besar dan ketiadaan lender of last resort. Ahli ekonomi seperti Kenneth Rogoff memperingatkan bahwa sistem keuangan bisa mengalami kegagalan serupa masa free banking di AS pada abad ke-19 jika tidak diatur dengan baik.Pertarungan AS dan China di ranah stablecoin juga menyiratkan pertarungan geopolitik global terkait dominasi mata uang. China menghadapi tantangan besar dengan kebijakan kapital tertutup yang membatasi peluncuran stablecoin renminbi yang bebas di pasar internasional, dan harus menyeimbangkan risiko kehilangan peluang teknologi dengan risiko ekonomi dan keamanan finansial.
Stabilitas keuangan global kini semakin bergantung pada bagaimana negara-negara besar mengatur stablecoin, yang meskipun menawarkan efisiensi, berpotensi mengurangi kontrol moneter nasional. AS dengan langkah agresifnya memberi tekanan besar pada China untuk berinovasi, namun kekhawatiran soal risiko politik dan ekonomi membuat keputusan Beijing penuh dilema.