AS dan China Beradu Strategi di Era Stablecoin: Masa Depan Uang Digital
Finansial
Mata Uang Kripto
01 Agt 2025
44 dibaca
2 menit
Rangkuman 15 Detik
Stablecoin dapat mengubah lanskap keuangan global dan meningkatkan persaingan antara mata uang.
Tiongkok menghadapi tantangan untuk segera mengadopsi teknologi keuangan baru agar tidak tertinggal dari AS.
Regulasi yang tepat terhadap stablecoin diperlukan untuk mencegah risiko sistemik dalam ekonomi.
Amerika Serikat kini kembali ke zaman dimana perusahaan bisa menerbitkan mata uang sendiri melalui kemajuan teknologi blockchain, dengan stablecoin sebagai bentuk utama yang dipatok pada dolar AS. Legislasi baru seperti GENIUS Act memberikan kerangka hukum pertama untuk stablecoin di AS, memperkuat posisi negara ini sebagai pusat kripto dunia.
Keputusan AS ini memaksa sejumlah negara, terutama China, untuk menentukan sikap soal stablecoin. China yang sudah melarang cryptocurrency secara resmi sejak 2021, kini mulai melakukan kajian serius tentang potensi stablecoin renminbi, agar tidak tertinggal dalam inovasi keuangan digital global dan menjaga pengaruh yuan dalam perdagangan internasional.
Hong Kong sebagai pusat keuangan otonom mulai membuka aplikasi untuk stablecoin yang dipatok pada dolar Hong Kong, dan berpotensi menjadi tempat pengujian stablecoin renminbi. Karena nilai dolar Hong Kong juga terikat pada dolar AS, langkah ini dinilai juga mendukung hegemoni dolar global.
Namun, penyebaran stablecoin membawa risiko baru, seperti potensi krisis keuangan akibat kebutuhan cadangan likuid yang besar dan ketiadaan lender of last resort. Ahli ekonomi seperti Kenneth Rogoff memperingatkan bahwa sistem keuangan bisa mengalami kegagalan serupa masa free banking di AS pada abad ke-19 jika tidak diatur dengan baik.
Pertarungan AS dan China di ranah stablecoin juga menyiratkan pertarungan geopolitik global terkait dominasi mata uang. China menghadapi tantangan besar dengan kebijakan kapital tertutup yang membatasi peluncuran stablecoin renminbi yang bebas di pasar internasional, dan harus menyeimbangkan risiko kehilangan peluang teknologi dengan risiko ekonomi dan keamanan finansial.
Analisis Ahli
Kenneth Rogoff
Risiko stabilitas keuangan akibat stablecoin sangat tinggi, paralel dengan era perbankan bebas di abad ke-19, dan ini bisa memicu krisis keuangan jika tidak diawasi ketat.Paul Blustein
Meskipun stabilcoin saat ini hanya sebagian kecil dari pembayaran internasional, risiko penggantian mata uang lokal menjadi penghalang serius bagi kontrol ekonomi oleh bank sentral.Zhiguo He
Hong Kong yang menerbitkan stablecoin dolar secara tidak langsung mendukung posisi dolar AS, sehingga Beijing mungkin mendorong pengembangan stablecoin renminbi sebagai imbalannya.