Dampak Tarif Trump: Apple Mengalami Kenaikan Biaya Produksi hingga Miliaran
Bisnis
Ekonomi Makro
01 Agt 2025
184 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Apple menghadapi biaya tinggi akibat tarif yang dikenakan oleh pemerintah AS.
Tim Cook menekankan bahwa sebagian besar iPhone kini diproduksi di India.
Pendapatan Apple tetap kuat meskipun tantangan terkait tarif dan biaya produksi.
Apple menghadapi kenaikan biaya produksi akibat tarif impor yang diberlakukan oleh pemerintah Presiden Donald Trump. Tarif ini terutama mempengaruhi produk-produk yang dibuat di China, India, dan Vietnam. Tim Cook, CEO Apple, menyebutkan bahwa tarif ini dapat menambah biaya hingga Rp 18.37 triliun ($1,1 miliar) pada kuartal September.
Pada kuartal Juni, Apple sudah mengeluarkan sekitar Rp 13.36 triliun ($800 juta) untuk menutupi biaya akibat tarif tersebut, lebih rendah dari perkiraan sebelumnya sebesar Rp 15.03 triliun ($900 juta) . Sebagian besar tarif yang dibayarkan merupakan tarif berdasarkan aturan IEEPA yang terkait dengan produk yang dibuat di China.
Produksi Apple telah menyebar ke beberapa negara, dengan sebagian besar iPhone yang dijual di Amerika Serikat diproduksi di India. Sementara itu, sebagian besar Mac, iPad, dan Apple Watch dibuat di Vietnam. Ini menunjukkan bagaimana Apple berusaha mengurangi dampak tarif dengan mengalihkan lokasi produksinya.
Meskipun menghadapi tantangan dari tarif, pendapatan Apple pada kuartal April hingga Juni tetap tumbuh sekitar 10 persen, mencapai Rp 1.57 quadriliun ($94 miliar) . Penjualan iPhone dan Mac juga tetap kuat di tengah kebijakan tarif yang ketat ini.
Selain itu, Trump pernah mengancam akan menaikkan tarif lebih tinggi jika Apple tidak memindahkan sebagian produksinya ke Amerika Serikat. Apple sendiri mengatakan terbuka untuk akuisisi di bidang kecerdasan buatan, yang bisa menjadi strategi berkembang di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Analisis Ahli
Ekonom Perdagangan Internasional
Tarif yang diberlakukan oleh pemerintahan Trump mencerminkan eskalasi ketegangan perdagangan yang merugikan perusahaan teknologi besar seperti Apple yang tergantung pada rantai pasokan global. Strategi diversifikasi produksi ke India dan Vietnam adalah langkah bijak, namun pindah ke AS akan memerlukan biaya tinggi yang bisa menaikkan harga jual produk.