Wanita Lumpuh 20 Tahun Tulis Namanya Lagi Pakai Pikiran Lewat Neuralink
Sains
Kesehatan dan Obat-obatan
29 Jul 2025
208 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Neuralink memungkinkan individu dengan kelumpuhan untuk berinteraksi dengan teknologi menggunakan pikiran.
Audrey Crews menandai tonggak sejarah dengan menjadi wanita pertama yang berhasil menulis kembali setelah dua dekade.
Uji coba Neuralink menunjukkan potensi besar dalam pengembangan antarmuka otak-komputer untuk meningkatkan otonomi digital.
Audrey Crews, seorang wanita yang telah lumpuh lebih dari dua dekade, berhasil menulis namanya memakai komputer menggunakan pikirannya saja. Hal ini terjadi berkat chip yang ditanam Neuralink, sebuah perusahaan teknologi otak yang didirikan oleh Elon Musk.
Neuralink mengembangkan antarmuka otak-komputer yang memungkinkan pengguna mengendalikan perangkat digital hanya dengan sinyal otak. Chip kecil berukuran seukuran uang seperempat ditanam langsung ke korteks motorik otak melalui operasi bedah otak.
Meskipun chip ini membantu Audrey menulis dengan pikiran, chip ini bukan alat untuk mengembalikan fungsi fisik seperti berjalan. Fungsinya saat ini adalah membantu komunikasi dan kendali digital melalui telepati.
Selain Audrey, peserta lain dalam percobaan Neuralink juga mulai merasakan manfaat berupa otonomi digital yang belum mereka rasakan sejak lama. Neuralink terus mengembangkan teknologi ini demi masa depan interaksi manusia dengan teknologi.
Kisah Audrey dan peserta lain menunjukkan harapan besar bagi orang-orang dengan gangguan neurologis serius untuk kembali terhubung dengan dunia melalui teknologi inovatif Neuralink.
Analisis Ahli
Miguel Nicolelis
Teknologi BCI seperti Neuralink dapat merevolusi cara manusia berinteraksi dengan mesin dan menawarkan solusi yang signifikan bagi pasien dengan gangguan neurologis, tetapi memerlukan uji klinis yang lebih luas dan evaluasi jangka panjang untuk memastikan keamanan dan efektivitasnya.Mary Lou Jepsen
Implant otak yang menghubungkan langsung ke komputer membuka peluang besar dalam bidang neuroteknologi, namun pendekatan invasif seperti Neuralink perlu diimbangi dengan riset non-invasif agar akses teknologi ini lebih luas.
