Serangan Ransomware Terhadap Marks & Spencer: Dampak dan Tanggapan Perusahaan
Teknologi
Keamanan Siber
08 Jul 2025
185 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Marks & Spencer mengalami gangguan operasional akibat serangan siber.
Data pelanggan yang dicuri mencakup informasi pribadi yang sensitif.
Perusahaan menghindari membahas rincian interaksi dengan kelompok peretas untuk kepentingan hukum.
Marks & Spencer, sebuah perusahaan retail besar di Inggris, mengalami serangan ransomware yang mencuri data penting pelanggan. Data yang diambil termasuk informasi pribadi seperti nama, tanggal lahir, alamat, nomor telepon, dan riwayat belanja online. Serangan ini berdampak besar pada operasional perusahaan.
Akibat serangan ini, banyak rak di toko-toko Marks & Spencer menjadi kosong, dan pelanggan tidak bisa melakukan pembelian secara online selama beberapa minggu. Hal ini menunjukkan bagaimana serangan siber dapat mengganggu kegiatan bisnis sehari-hari yang biasa kita lakukan.
Archie Norman, ketua Marks & Spencer, menyatakan bahwa perusahaan tidak akan membahas apakah mereka membayar tebusan kepada pelaku peretasan. Hal ini disebabkan oleh alasan keamanan dan hukum, serta proses penyelidikan yang tengah berjalan.
Norman juga menegaskan bahwa tidak ada staf perusahaan yang berhubungan langsung dengan kelompok hacker DragonForce, yang disebut sebagai pelaku serangan tersebut. Ini menunjukkan bahwa komunikasi dengan kriminal siber kemungkinan diurus oleh pihak ketiga atau penegak hukum.
Saat ini, Marks & Spencer masih dalam proses pemulihan setelah serangan tersebut dan diharapkan proses ini akan berlanjut hingga beberapa bulan ke depan, memperlihatkan betapa serius dan rumitnya menghadapi serangan siber besar.
Analisis Ahli
Brian Krebs (jurnalis cybersecurity)
Menolak menjawab apakah membayar tebusan bisa mempersulit upaya penegakan hukum dan memperkuat posisi kelompok ransomware, karena mengurangi tekanan publik pada perusahaan untuk melawan tuntutan mereka.

