Waspadai 4 Modus Penipuan AI yang Mengancam Fintech dan Rekening Bank
Teknologi
Keamanan Siber
27 Jun 2025
197 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Penipuan berbasis AI semakin canggih dan mengancam berbagai sektor, termasuk finansial.
Teknologi seperti deepfake dan chatbot dapat digunakan oleh pelaku kejahatan untuk menipu korban dengan cara yang lebih meyakinkan.
Penting bagi masyarakat dan perusahaan untuk waspada terhadap modus penipuan baru yang memanfaatkan kecerdasan buatan.
Teknologi kecerdasan buatan saat ini membawa dua sisi, yakni kemudahan sekaligus ancaman. Penjahat mulai memanfaatkan AI untuk melakukan berbagai jenis penipuan yang semakin canggih, seperti membuat video dan suara palsu yang sulit dibedakan dari aslinya.
Salah satu contoh penipuan adalah Business Email Compromise (BEC) yang menggunakan AI untuk membuat email dan panggilan palsu demi mengelabui pegawai perusahaan. Di Hong Kong, terjadi kasus penipuan besar-besaran yang menyebabkan kerugian hampir Rp480 miliar.
Selain itu, chatbot AI digunakan untuk menipu korban dalam skema penipuan asmara. Chatbot ini bisa berbicara layaknya manusia asli dengan panduan percakapan yang sangat natural sehingga korban sulit mengenalinya.
Skema "pig butchering" atau penipuan investasi juga semakin massif dengan bantuan AI. Penipuan ini mengirim pesan secara otomatis untuk menarik korban dan menggunakan video deepfake atau teknologi kloning suara demi meyakinkan target.
Terakhir, video deepfake juga dipakai untuk pemerasan dengan menyasar pejabat dan eksekutif, bahkan meminta pembayaran dalam bentuk kripto. Teknologi deepfake yang semakin mudah diakses membuat ancaman ini semakin luas dan berbahaya.


