Waspada! Modus Penipuan AI Marak Mengancam Fintech dan Eksekutif
Teknologi
Keamanan Siber
22 Agt 2025
207 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Kecerdasan buatan semakin dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber dalam berbagai modus penipuan.
Penipuan seperti deepfake dan skema 'pig butchering' menunjukkan kompleksitas dan kecanggihan baru dalam kejahatan siber.
Penting bagi masyarakat dan korporasi untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman yang ditimbulkan oleh teknologi AI dalam konteks kejahatan siber.
Teknologi kecerdasan buatan (AI) kini tidak hanya digunakan untuk hal positif, tetapi juga disalahgunakan oleh penjahat siber untuk melakukan berbagai bentuk penipuan. Deepfake sangat mungkin meniru suara dan wajah seseorang dengan sangat meyakinkan, sehingga sulit dibedakan dari yang asli.
Salah satu modus yang berkembang adalah Business Email Compromise (BEC) yang menggunakan video dan audio palsu agar pegawai perusahaan percaya dan mentransfer uang dalam jumlah besar. Fenomena ini sudah terjadi di beberapa negara dan makin meningkat jumlahnya.
Tidak hanya itu, chatbot AI juga digunakan untuk menipu korban melalui penipuan asmara dengan percakapan yang natural tanpa aksen, membuat korban sulit menyadari bahwa mereka sedang berinteraksi dengan mesin.
Skema penipuan 'pig butchering' yang berkedok investasi juga memanfaatkan AI secara massal untuk mengirim pesan yang seolah datang dari teman atau kenalan dekat, lalu memperdaya korban melalui deepfake dan kloning suara saat panggilan video.
Pemerasan dengan menggunakan video deepfake yang menargetkan pejabat dan eksekutif pemerintah juga makin sering muncul, menuntut pembayaran kripto sebagai tebusan. Hal ini memperlihatkan bagaimana kejahatan siber berbasis AI menjadi ancaman serius yang harus diwaspadai.
Analisis Ahli
Kevin Mitnick
Ancaman AI dalam kejahatan siber adalah evolusi dari teknik rekayasa sosial yang harus diantisipasi dengan pendekatan keamanan siber yang berlapis dan peningkatan kesadaran pengguna.Bruce Schneier
Penggunaan deepfake dan AI untuk penipuan menunjukkan bahwa kita perlu memperkuat sistem verifikasi identitas digital serta regulasi yang mengatur penyebaran teknologi AI.

