Waspada! Penipuan Berbasis AI Makin Canggih dan Mengancam Keuangan Anda
Teknologi
Keamanan Siber
21 Jun 2025
29 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Penipuan berbasis AI semakin canggih dan sulit dideteksi.
Teknologi seperti deepfake dan kloning suara digunakan untuk menipu korban dengan cara yang lebih meyakinkan.
Masyarakat dan korporasi perlu lebih waspada terhadap ancaman penipuan yang terus berkembang ini.
Teknologi kecerdasan buatan kini tidak hanya digunakan untuk kemajuan, tapi juga dimanfaatkan oleh penjahat siber untuk melakukan penipuan yang semakin canggih. Di masa depan, khususnya tahun 2025, penipuan berbasis AI diprediksi menjadi ancaman serius bagi layanan-keuangan dan rekening pribadi.
Modus penipuan BEC (Business Email Compromise) telah berevolusi, di mana pelaku menggunakan AI untuk membuat video dan audio palsu yang hampir sulit dibedakan dari aslinya. Bahkan ada kasus di Hong Kong di mana penjahat mampu menipu pegawai hingga mentransfer dana hampir Rp480 miliar.
Penipuan asmara makin maju dengan kehadiran chatbot AI otonom yang berinteraksi secara natural tanpa aksen, sehingga korban sulit membedakan antara manusia dan mesin. Modus ini juga tersebar di media sosial dan telah diperlihatkan oleh pelaku kejahatan dari Nigeria.
Skema investasi palsu atau 'pig butchering' dilakukan secara masif dengan bantuan AI yang mengirim pesan otomatis untuk memancing korban. Selain itu, teknik deepfake dan kloning suara digunakan untuk membuat panggilan video yang meyakinkan dalam proses penipuan.
Kasus pemerasan dengan video deepfake juga semakin banyak. Pelaku menggunakan foto dan video publik dari media sosial untuk membuat video palsu yang menyerang pejabat pemerintah dan menuntut pembayaran mata uang kripto. Hal ini menunjukkan bahwa ancaman penipuan AI akan menjadi masalah global yang serius.



