Militer AS Percepat Modernisasi dengan Drone Mikro dan Drone Bersenjata Canggih
Teknologi
Robotika
27 Mei 2025
69 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Angkatan Darat AS meningkatkan kemampuan drone untuk pengintaian dan serangan.
Black Hornet 3 memungkinkan tentara non-spesialis melakukan misi ISR.
Inovasi dalam sistem UAV mendukung operasi tempur yang lebih fleksibel dan responsif.
Militer Amerika Serikat kini fokus mempercepat penggunaan drone kecil dan canggih untuk meningkatkan kemampuan pengintaian dan operasi tempur di medan perang. Contohnya adalah pengoperasian drone Black Hornet 3 oleh DIVISI Infanteri 1, yang memberikan informasi langsung saat bertugas di lapangan.
Black Hornet 3 adalah drone nano super ringan dengan berat hanya 33 gram yang dilengkapi sensor elektro-optik dan inframerah. Drone ini mampu terbang sejauh 2 kilometer dengan waktu terbang sekitar 25 menit, serta dapat beroperasi di dalam maupun luar ruangan dengan cepat dan senyap.
Selain drone pengintaian, militer juga mengembangkan drone bersenjata yang dapat melakukan misi presisi. Proyek ini dilakukan bersama Orbital Research dengan konsep Hunt-Kill-Return untuk melumpuhkan sasaran seperti pos penyergapan dan kendaraan lapis ringan menggunakan munisi yang dirancang khusus.
Dalam pengujian di Fort Benning selama tahun 2023 hingga 2025, teknologi drone bersenjata diuji dalam kondisi nyata sehingga bisa diperbaiki dan disesuaikan berdasarkan masukan langsung dari prajurit yang mengoperasikannya. Ini membantu mempercepat integrasi teknologi baru ke dalam strategi tempur.
Dengan menggabungkan drone mini untuk pengintaian dan drone bersenjata yang bisa dikendalikan secara jarak jauh oleh satu tentara, militer AS menciptakan sebuah sistem taktis yang lebih lincah dan terdesentralisasi, yang menjadi bagian dari perubahan besar dalam doktrin pertempuran jarak dekat.



