Drone ROOSTER Israel Hadirkan Serangan Presisi untuk Perang Perkotaan dan Bawah Tanah
Teknologi
Robotika
03 Sep 2025
131 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Drone ROOSTER yang baru dilengkapi dengan muatan bersenjata untuk misi di lingkungan perkotaan.
Sistem ini menggabungkan kemampuan pengintaian dan serangan dengan teknologi AI untuk meningkatkan efisiensi operasional.
ROOSTER menawarkan solusi fleksibel untuk tantangan tempur di area yang sulit dijangkau, seperti terowongan dan bangunan padat.
Robotican, perusahaan pertahanan Israel, telah meluncurkan versi bersenjata dari drone hibrida ROOSTER yang dapat berguling dan terbang. Drone ini kini dilengkapi dengan hulu ledak panduan presisi seberat 300 gram yang dirancang khusus untuk pertempuran di lingkungan perkotaan dan bawah tanah yang sempit dan sulit dijangkau sebelumnya.
ROOSTER adalah singkatan dari RObotic Observation System for Tactical Engagement and Reconnaissance. Sebelumnya, drone ini hanya digunakan untuk pengintaian dan pengamatan, tetapi dengan tambahan persenjataan baru, drone ini kini dapat melakukan serangan tepat sasaran di dalam gedung, terowongan, dan area-area tertutup lainnya.
Drone ini memiliki desain unik berupa kerangka pelindung yang memungkinkan bergerak di tanah dengan cara berguling, naik tangga, dan melewati lorong-lorong sempit, sementara rotor memungkinkan terbang ketika diperlukan. Dengan kemampuan ganda ini, operator dapat mengendalikan drone untuk masuk lebih dalam ke lingkungan perkotaan sambil siap untuk menyerang jika diperlukan.
ROOSTER juga dilengkapi teknologi kecerdasan buatan (AI) yang mampu mendeteksi objek, melacak dan mengunci target secara otomatis setelah ditunjuk oleh operator. Drone ini juga memiliki mekanisme keamanan berlapis untuk mencegah aktivasi yang tidak disengaja dan memastikan keselamatan di sekitar pasukan sendiri.
Berat total ROOSTER adalah 1,6 kilogram dan mampu membawa muatan hingga 300 gram seperti kamera spektral, sensor oksigen dan radiasi, serta hulu ledak presisi. Drone ini memiliki ketahanan 30 menit saat berguling dan 12-15 menit saat terbang, dan telah digunakan oleh militer Israel, DEA AS, serta diuji oleh pasukan Spanyol dan Eropa. Drone ini menjawab kebutuhan global akan solusi tempur cepat dan presisi di lingkungan kompleks.
Analisis Ahli
Dr. Avi Cohen (ahli teknologi militer Israel)
Integrasi kemampuan berguling dan terbang pada drone dengan sensor AI untuk pengenalan target merupakan inovasi yang sangat relevan untuk skenario perang modern yang kompleks dan sangat dinamis.Prof. Sarah Thompson (pakar robotik dan AI dari Universitas Cambridge)
Sistem otomatisasi target dalam ruang terbatas menunjukkan kemajuan signifikan dalam loitering munitions, namun penting untuk menguji keamanan dan mencegah aktivasi tak disengaja di lapangan.

